29 Januari 2021

Yohanes 1:12 (TB) Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;

 

Kata “menerima-Nya“, ditulis dalam bahasa Yunani: Lambanō, yang dapat diterjemahkan: Mengambil dengan tangan, menggenggam, menerima seseorang.

 

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan untuk dapat ‘menerima firman’ :

 

1. Roh yang aktif

 

Kondisi roh yang menyala – nyala atau sangat haus akan firman-Nya menjadi sangat menentukan untuk kita bisa menerima firman. Sebab hal itu adalah tanda adanya kehidupan. Jika roh kita padam, maka firman yang dilepaskan Bapa tidak akan pernah sampai ke dalam manusia roh kita. Namun sebaliknya, jika roh kita bergelora dan menyala – nyala, maka di mana pun dan kapan pun kita bisa menangkap firman.

 

Di sinilah pentingnya kita mendisiplin diri untuk membangun manusia rohani. Jangan pernah biarkan roh kita padam. Doalah dalam bahasa roh secara antusias, menyembahlah sedemikian rupa, dan deklarasikan firman sampai roh berkobar! Lakukan hal itu dengan tekun sampai mengalami adanya api revival senantiasa menyala setiap hari.

 

2. Kecenderungan hati

 

Pastikan kita terus mencintai Tuhan dan memprioritaskan Diri-Nya lebih dari apa pun juga. Jangan sampai ketika kita sudah diberkati, justru kecenderungan hati kita berubah. Mulai tidak memprioritaskan Tuhan, ibadah jadi ‘ogah – ogahan’, dan jam doa pribadi jadi berkurang. Itu hanya menandakan hati kita sedang berpaling kepada dunia ini ataupun kepada Mamon.

 

Pendek kata, frekuensi rohani kita sedang tidak benar. Alhasil apa pun yang Tuhan firmankan tidak bisa kita terima karena kita ada di frekuensi yang berbeda. Kita sedang ada dalam bahaya jika kita merasa ‘aman’ dengan keberadaan uang, harta, dan berkat lainnya. Itu tanda terjadinya
pergeseran kecenderungan hati. Sebab hanya firman-Nya saja yang harus membuat kita aman. Di dalam Dia saja hidup kita tidak tergoncangkan. Jadi, tidak ada alternatif lain, kita harus kembali mencintai Tuhan dan memprioritaskan Dia lebih siapa pun dan apa pun juga.

 

3. Hati yang tahir

 

Konflik dan berbagai pemikiran buruk terhadap orang lain walau sedikit saja sudah tidak bisa lagi dikompromikan! Sebab hal itu mencemari hati dan membuat kita tidak menangkap firman yang Bapa lepaskan. Bahkan tidak bisa paham sama sekali. Hati yang cemar membuat kita tidak bisa melihat Tuhan. Jadi kita harus segera membersihkan hati dengan kasih ilahi.

 

Ingat saja bahwa Tuhan sudah mengampuni kita, sudah sewajarnya kita mengampuni orang lain. Pokoknya segala ganjalan harus tersingkir sepenuhnya. Hidup kita harus menjadi pelaku firman, mengasihi Tuhan dan sesama seperti Bapa mengasihi mereka.

 

Kondisi hati yang tahir akan membuat kita bisa melihat atau memahami firman yang Bapa lepaskan. Dengan demikian kita menjadi pelaku firman! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus