Top

29 Juni 2020

Sistem dunia yang jahat mengkondisikan manusia untuk selalu ‘sibuk’ mencari kebutuhan hidup, dan parahnya lagi mencemari hati manusia dalam penyembahannya terhadap Tuhan. Jadi secara tidak sadar kalau kita menghadap Tuhan pasti urusannya tidak jauh – jauh dari soal kebutuhan hidup sehari – hari. Intinya mentalitas kita jadi ‘meminta – minta’ kepada Tuhan. Ketulusan hati untuk menyembah Dia sebagai pribadi yang kita kasihi dan hormati semakin terkikis. Inilah kondisi dan keadaan yang banyak dialami oleh orang percaya. Ujung – ujungnya duit dan harta yang diinginkan dari Tuhan.

Saya tiba – tiba teringat dengan kisah perempuan Samaria yang bercakap – cakap dengan Yesus. Ini bukan pertemuan yang tidak disengaja, melainkan ada dalam agenda Bapa. Jadi perempuan yang tidak disebutkan namanya dalam kitab Yohanes 4 tersebut telah beroleh anugerah untuk bertemu Yesus secara pribadi. Ia ‘dicari’ oleh Bapa! Kenapa harus perempuan itu? Apa tidak ada perempuan lain yang ‘lebih baik’? Mungkin bagi kita perempuan itu ‘tidak terlalu’ penting. Tapi bagi Bapa sangatlah penting. Apa pun alasannya, Bapa telah memilihnya dan menjadwalkan pertemuan Yesus dengan dia.

Kita tahu bersama bahwa orang – orang Yahudi tidak mengakui orang Samaria sebagai bangsa Israel. Dikarenakan sejarah kawin campur orang Israel pada masa lampau dengan bangsa lain maka terlahirlah orang – orang di Samaria yang ‘dianggap tidak murni sebagai turunan Israel’. Dan mereka memiliki tata cara ibadah yang berbeda. Orang Yahudi berkiblat ke Yerusalem, sedang orang Samaria beribadah di bukit. Jadi kehadiran Yesus kepada perempuan Samaria itu merupakan suatu ‘surprise‘ tersendiri (Yohanes 4:9).

Tapi terlepas dari perbedaan ras dan konflik yang berkepanjangan, Bapa mengirim Yesus untuk mencari perempuan itu yang sebenarnya sangat menantikan Kristus itu sendiri.

Yohanes 4:25 (TB) Jawab perempuan itu kepada-Nya: “Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.”

Satu hal yang perempuan itu miliki adalah hati yang lapar dan haus akan Tuhan dan Firman-Nya. Inilah kualitas hati yang Tuhan cari. Bukan untuk meminta ‘ini dan itu’ kepada Tuhan. Tapi keinginannya hanya ingin berjumpa dengan Kristus dan mendengar firman-Nya.

Kualitas hati seperti itulah yang sebenarnya Tuhan juga cari dari dalam diri kita. Itulah yang disebut sebagai penyembah dalam Roh dan Kebenaran. Kita ingin berjumpa dengan Dia dengan rasa hormat dan kagum yang teramat dalam. Motivasinya hanya ingin bertemu dan bersekutu dengan pribadi Tuhan. Itulah kepuasan sejati kita.

Perenungan ini membuat Roh Kudus mengatur kembali sikap hati saya kepada Tuhan. Dan membuat saya kembali berfokus menjaga dan menumbuhkan hati yang lapar dan haus terhadap realita Tuhan dan firman-Nya. Inilah yang akan membuat kita terhisap masuk dalam agenda besar Bapa dan menjalani hidup yang memperkenan hati-Nya.

Sebagai seorang penyembah yang kita butuhkan hanyalah Tuhan dan firman-Nya, bukan yang lain!! Jika sikap hati kita seperti ini maka kita akan dianggap penting dan dicari oleh Bapa untuk menjadi kemah perjumpaan antara Dia dengan manusia (Yohanes 4:39-42, Wahyu 21). #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus