Top

29 Mei 2020

Secara pribadi Tuhan berbicara seperti ini kepada saya mengenai level kematian sejati: Banyak orang menganggap ketika dirinya mengikuti “orang kegerakan yang Tuhan tetapkan”, maka ia akan mengidentifikasikan dirinya seperti Yosua yang mengikuti Musa, seperti Elisa yang mengikuti Elia, dan seperti Timotius yang mengikuti Paulus.

 

Tentunya tidaklah salah membayangkan hal itu. Sebab ada sikap hati dan gaya hidup (pola ilahi) yang kita bisa dapatkan dari mereka untuk kehidupan kita sekarang agar terus berjalan dalam kebenaran sebagai seseorang yang Tuhan tetapkan berada di bawah pemimpin kegerakan.

 

Tapi Roh menegaskan kepada saya: Matilah dari keinginan untuk ‘menjadi’ Yosua, Elisa, dan Timotius. Bahkan tidak perlu berpikir ke arah sana sebagai orang yang akan “melanjutkan atau berfungsi dalam kegerakan” dengan porsi Roh dan pengurapan dua kali ganda. Tidak perlu! Bebaskan dirimu dari keinginan tersebut! Sebab memang sejatinya tujuanmu bukan untuk itu, melainkan untuk ‘mati di kayu salib’.

 

Inilah yang disebut keserupaan dengan Kristus. Pokoknya segala hal yang berkaitan dengan “AKU AKAN MENJADI…..” semua itu harus mati. Satu saja keinginan kita yang harus kita jagai (keinginan ilahi) seperti yang Paulus inginkan, yaitu:

 

Filipi 3:10-11 (TB) Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.

 

Ada 3 poin penting dari satu kalimat di atas:

 

1. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya.

 

Keinginan di atas bersifat sangat intim. Itulah keinginan yang harus kita jagai, yaitu bersekutu dengan Dia. Tidak peduli ‘mau jadi apa dan siapa diri kita’, persekutuan dengan Tuhan merupakan hal yang terutama. Apa pun boleh hilang dari hidup kita: posisi, jabatan, fungsi, harta, dll. Tapi satu saja keinginan yang harus kita jagai yaitu mengenal Dia. Sehingga kapan pun dan di mana pun roh kita tetap melekat dengan Tuhan. Inilah kepuasaan batin yang tidak bisa diambil oleh siapa pun dan apa pun, dan tidak bisa ditukar oleh kepuasan dunia ini.

 

2. Menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.

 

Kita tahu bersama bagaimana kematian Yesus – kematian terhina, terkejam, dan tersiksa, penuh dengan darah serta cemoohan. Paulus menegaskan, ia mau mati seperti itu! Keinginan Paulus dengan keinginan ‘para hamba Tuhan khususnya di zaman sekarang ini masih bertolak belakang’.

 

Para ‘hamba Tuhan sekarang’ menginginkan menjadi pengkhotbah terkenal dan diurapi, jemaat banyak, menjadi tokoh kebangunan rohani atas kotanya, diberkati, menjadi orang yang terpandang, serta jika boleh sekaligus menjadi orang yang sangat kaya – ini sangatlah beda dengan keinginan Paulus!!

 

3. Beroleh kebangkitan dari antara orang mati.

 

Yesus mati, lalu Ia bangkit pada hari yang ketiga. Pengalaman bangkit dari kematian sudah pernah dialami oleh Paulus ketika ia dilempari batu sampai mati (Kisah Para Rasul 14:19-20). Lalu keinginan ‘bangkit’ seperti apa yang Paulus maksudkan? Ia MAU MENYATU DENGAN KRISTUS DALAM KEABADIAN ATAU KEKEKALAN UNTUK SELAMANYA!

 

Esensi dari 3 keinginan Paulus di atas adalah: “IA MAU MENJADI SERUPA DENGAN KRISTUS”. Dan apa yang dia inginkan sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal – hal lahiriah seperti jabatan, kekayaan, ketenaran, fungsi, posisi, jabatan, atau apa pun hal lahiriah lainnya. Sebab bagi Paulus semua itu sampah! Tapi jika akhirnya Paulus menjadi RASUL. Bahkan ia menjadi rasul yang sangat berpengaruh, diakui keabsahannya (kapasitas, dedikasi, integritas) oleh rasul – rasul lainnya dan juga pelayanannya menjadi sangat berdampak sampai sekarang – ternyata semua itu bukan lagi Paulus, ia sudah mati dari keinginan itu semua! Bapalah yang mempromosikan dirinya sehingga ia dibangkitkan sebagai pribadi yang berbeda – pribadi yang MENYATU DENGAN KRISTUS!!

 

Galatia 2:20 (TB) namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

 

Itulah satu – satunya keinginan yang harus saya jagai. Saya tidak butuh nama besar, saya tidak butuh keterkenalan, saya tidak butuh posisi atau jabatan, saya tidak butuh pengakuan manusia, yang saya butuhkan HANYALAH KRISTUS YANG MEMENUHI HIDUP SAYA! TITIK! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus