Top

3 Februari 2020

Roh Kudus menegaskan kepada saya bahwa distraction, tantangan, dan masalah (dari orang lain) akan selalu ada di sekitar kita. Sebab Alkitab memang telah menubuatkan kepada kita kondisi akhir zaman yang ada saat ini (2 Timotius 3:1-9, Matius 24:37, Kejadian 6). Jadi jangan berharap itu hilang dari hidup kita, tapi kita bisa berharap hal itu tidak mempengaruhi diri kita!

 

Faktor eksternal bukan dalam kendali kita, tapi kita bisa menjaga atau mengendalikan hati kita dengan segala kewaspadaan (Amsal 4:23)

 

1. Set pikiran kita bahwa sumber sukacita kita hanya dari Roh Kudus, bukan orang, bukan juga situasi dan keadaan.

 

Jadi jangan berharap itu semua bisa memberikan damai dan sukacita. Tidak! Sumber sukacita sejati hanya dari Roh Kudus-Nya.

 

2. Untuk tetap bersukacita di tengah kondisi dan situasi yang ingin men-distract diri kita, sesungguhnya kita perlu dilatih ulang.

 

Proses berlatih tersebut merupakan tindakan aktif untuk menyingkirkan pola dunia, dan di saat yang sama diri kita sedang dicetak oleh pola ilahi. Sebab tanpa sadar dunia telah menjadikan kita orang yang bereaksi marah ketika ada orang lain yang marah, bereaksi kecewa ketika ada orang yang tidak seturut harapan kita, dan bereaksi sedih ketika situasi dan kondisi jadi memburuk.

 

Itulah cetakan dunia yang harus kita bongkar. Sebagaimana dunia telah ‘melatih’ terus menerus membuat kita bereaksi dengan cara yang sama, begitupun kita harus melatih diri kita terus menerus dengan cara yang ilahi.

 

Bagaimana caranya?

 

Filipi 4:4-5 (TB) Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!
Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!

 

Latih diri kita untuk tersenyum ketika ada orang yang marah tanpa sebab kepada kita, latih diri kita untuk melompat dan bersorak ketika situasi dan keadaan seolah menjadi buruk, latih diri kita untuk tetap tenang dan membuat wajah riang dan berpengharapan ketika berhadapan dengan orang – orang yang putus asa. Prinsipnya diri kita tidak boleh bosan – bosan untuk berbuat hal yang baik. Awali kebaikan itu dengan bersukacita dalam segala keadaan.

 

3.Berinteraksilah dengan Roh Kudus sebagai sebagai pribadi yang ada dalam diri kita.

 

Minta kepada Roh Kudus untuk memenuhi batin kita dengan sukacita dan damai sejahtera. Ini merupakan tindakan yang terjadi di alam roh yang akan mempengaruhi alam lahiriah. Ketika batin kita dipenuhi oleh damai sejahtera dan sukacita, maka secara otomatis segala bentuk dukacita dan emosi negatif yang ada di sekitar kita akan sirna. Ibarat gelap yang tersingkir akibat terang yang bersinar. Prinsipnya ; bergantung dan melekat terus kepada Roh Kudus! Sebab hanya Dia sumber sukacita kita di tengah angkatan yang bengkok dan gelap ini.

 

Saya optimis, jika kita mau melatih diri kita dengan tekun untuk bersukacita, maka akan tiba waktunya “jiwa – jiwa yang kering dan berduka” akan datang untuk alami perjumpaan dengan Allah yang hidup melalui diri kita (Wahyu 21). #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus