3 September 2021

Kisah Nuh membangun bahtera kembali berbicara kuat dalam batin saya. Salut, itulah kata untuk memuji mental Nuh yang bukan hanya bermental baja, tapi lebih tepat jika disebut: ilahi. Bayangkan saja, ia mengerjakan sesuatu yang tidak lazim, tidak populer dan tidak dipahami orang lain. Bahkan ‘tidak bernilai’ bagi orang-orang di masa itu, tidak ada ‘unsur kesuksesan serta kebanggaan di mata dunia’. ‘Juga tidak ada fungsi yang bisa tergambar oleh manusia pada zaman itu’. Nuh membangun sesuatu seperti ‘perahu’ (bahtera) di dataran tinggi. Untuk apa? Tidak ada faedahnya sedikit pun. Itu pekerjaan yang terbilang menyusahkan diri sendiri. Wajar saja orang – orang yang ada pada waktu itu sulit percaya dengan pemberitaan dan kehidupan yang benar yang Nuh nyatakan (berfokus untuk mengerjakan kehendak Tuhan).

2 Petrus 2:5 (TSI2) Dan bukti kedua, Allah menghukum orang-orang pada zaman Nuh ketika Dia mendatangkan banjir besar. Tetapi Allah melindungi Nuh dan tujuh orang lainnya. Nuh adalah orang yang memberitakan tentang hidup yang benar, sedangkan mereka yang binasa adalah orang yang menolak untuk bertobat dan melayani Allah.

Mentalitas Nuh yang menjadi sorotan saya. Tidak mudah untuk terus melangkah dalam arahan Tuhan. Apalagi jika arahannya tidak populer bahkan melawan arus atau budaya dunia yang menentang keberadaan Tuhan. Belum lagi cemoohan orang, berbagai suara sumbang yang datang dari keluarganya sendiri, juga tidak ketinggalan banyak yang menganggap bahwa Nuh sudah menjadi gila. Jika mental Nuh mudah rapuh, maka ia akan meninggalkan rencana dan kehendak Tuhan sebelum tuntas. Untungnya Nuh punya mental yang tangguh, bagaikan mental prajurit yang tidak menyerah dan pantang mundur sebelum tugas selesai. Pastinya mental seperti itu terbangun karena interaksi Nuh dengan Tuhan sendiri. Ia beroleh mentalitas ilahi untuk fokus menyelesaikan kehendak Tuhan.

Sebenarnya tugas kita sebagai orang percaya di dunia ini memiliki keserupaan seperti yang Nuh terima, yaitu membangun ‘bahtera’. Bukan bahtera lahiriah, melainkan bahtera rohani yaitu gereja Tuhan secara korporat maupun diri kita sendiri sebagai bait Allah. Dibutuhkan pola dari ruang takhta untuk membangun hal tersebut dan mental yang ilahi untuk mewujudkannya. Tidak semua orang mau melakukan ini dengan fokus dan konsisten. Tapi bagi mereka yang melakukannya, maka kehidupan mereka akan diangkat naik oleh Tuhan untuk mengatasi segala kegoncangan yang akan terjadi di dunia ini.

Bagaimana caranya? Sederhana saja, sebagaimana Nuh bergaul dengan Tuhan, begitulah seharusnya diri kita.

Kejadian 6:9 (TB) Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.

Ketahuilah, dengan siapa kita bergaul begitulah kita menjadi. Jika kita bergaul dengan orang yang ‘buruk’, maka cepat atau lambat kita pun menjadi buruk (1 Korintus 15:33). Jika kita bergaul dengan Tuhan dan menempatkannya sebagai patokan, panutan, pola dan pastinya sebagai Tuhan atau penguasa atas diri kita, maka cepat atau lambat kita pun akan menjadi serupa dengan-Nya.

Pertanyaannya, bagaimana cara bergaul dengan Tuhan? Pertama – tama kita harus tahu kebenaran bahwa Allah itu roh. Beginilah caranya :

Yohanes 4:24 (TSI2) Karena Allah bukan daging, tetapi Roh. Oleh karena itu, setiap orang yang mau menyembah Dia hendaklah menyembah-Nya melalui persatuan dengan Roh Kudus dan sesuai dengan ajaran benar yang dari Allah.”

PERSATUAN DENGAN ROH DAN MENERIMA AJARAN YANG BENAR, itulah kalimat kuncinya. Keberadaan diri kita sebagai makhluk roh sesungguhnya dapat bersatu dengan Tuhan. Melalui iman kepada-Nya, Roh Kudus membawa kita mengalami persatuan dengan kematian dan kebangkitan-Nya. Tuhan bukan lagi pribadi yang jauh, tetapi Ia ada di dalam kita. Jadi sebenarnya bukan hal yang sulit untuk memiliki mental yang ilahi dalam menyelesaikan kehendak Tuhan, kita cukup menyadari bahwa Tuhan di dalam kita dan mulai berasosiasi dengan-Nya dengan memikirkan hal – hal yang dari Roh. Ya, sesederhana itu saja! Jika kita fokus pada hal tersebut maka kita tidak akan pernah tergiur dengan jalan hidup dunia ini yang penuh dengan kenikmatan. Kita akan tetap fokus berjalan melakukan kehendak Tuhan dan jalan salib-Nya yang penuh kemuliaan. Itulah yang membuat kita puas! Dan kepuasannya tidak bisa ditukar oleh tawaran dunia ini!

Jika Nuh pada waktu itu hanya ‘berhasil’ menyelamatkan keluarganya, kita pada zaman paling akhir ini akan membuat BANYAK ORANG mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Bagian kita hanya terus berfokus saja pada arahan Tuhan, sekalipun itu tidak populer atau bahkan membuat kita mengalami penolakan. Teruslah melangkah mewujudkannya, sebab kita tahu dengan pasti bahwa kemah Allah atau bait Roh-Nya akan menjadi sarana perjumpaan manusia dengan Tuhan. Itulah diri kita yang berada di tengah – tengah mereka (Wahyu 21).

#AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus

____

Dapatkan renungan harian Ps. Steven Agustinus (text, quote & audio) setiap harinya melalui Whatsapp Anda, dengan cara mendaftarkan diri:
Nama_Kota_No Whatsapp
Kirim ke nomor 0888-6132-106