Top

30 Juli 2018

Saya mendapati prinsip membangun logika ilahi, sangatlah penting dan mendasar dalam kehidupan kita sebagai orang percaya. Hal ini bukanlah suatu opsi, namun adalah prinsip yang harus dijalani sebagai orang percaya dalam menjalani perjalanan imannya.

1. Dengan memiliki logika ilahi, akan mengkondisikan kita hidup dalam iman.

Tanpa logika ilahi, akan banyak pertimbangan untung rugi yang akan menghalangi kita melangkah mengikuti firman. Hal itu disebabkan karena ada banyak kebiasaan dan pola pikir kita sudah tercetak oleh dunia ini, sehingga kita cenderung mengikuti cara-cara manusiawi atau duniawi daripada mengikuti firman. Namun dengan terbangunnya logika ilahi dalam pikiran kita, kita akan menjadi orang yang mudah percaya dan mudah diyakinkan.

Matius 8 : 5-7 Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita. Yesus berkata kepadanya: “Aku akan datang menyembuhkannya.”

Firman telah datang kepada perwira itu, dan perhatikan apa yang menjadi respon perwira itu:

(8) Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.

(9) Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.”

Rupanya ada Logika ilahi yang sudah terbangun dalam diri sang perwira: jika ada atasan/otoritas memberi perintah, bawahan harus meresponi sesuai dengan perintahnya. Logika ini menolong dia untuk percaya, apapun Firman yang dia terima, akan membuat hambanya alami kesembuhan. Dan hal itu sungguh terjadi: Firman dilepaskan kepadanya, dan terjadilah mujizat atas hambanya!

Matius 8 : 13 Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

2. Dengan memiliki Logika ilahi, mengkondisikan kita menjadi pelaku firman-Nya

Saya semakin menyadarinya ibadah yang kita lakukan tiap minggu, tidak boleh dianggap suatu rutinitas orang Kristen saja. Kita harus mengubah konsep berpikir kita, bahwa datang ibadah hanya untuk terima berkat saja. Atau datang ibadah ingin didoakan supaya bebas dari masalah dan pergumulan yang sedang kita hadapi.

Sesungguhnya di dalam ibadah yang benar, ada banyak dinamika pekerjaan firman dan roh yang akan membawa kita alami pembaharuan akal budi. Firman yang dilepaskan pemimpin janganlah dianggap suatu kotbah saja, untuk didengar dan sesudah itu dilupakan begitu saja. Atau sekedar dianggap kotbah yang bagus dan memberkati belaka. Tapi harus dianggap sebagai arahan dan instruksi yang harus dilakukan. Dan kita harus bertekun di dalamnya.

Yak 1:22 TSI “Tetapi hendaklah kita menjadi pelaku Firman-Nya. Janganlah kita menipu diri kita sendiri dengan berpikir, “Bagi saya mendengar Firman-Nya saja sudah cukup!””

Sesungguhnya firman yang disampaikan pemimpin atau bapa rohani adalah firman yang diterima dari mulut Allah (Mat 4:4), dan bertujuan mengkondisikan kita untuk alami perombakan dari logika yang lama (cara berpikir yang lama, sikap hati yang keliru) diubah menjadi logika yang baru, yang selaras dengan firmanNya!

Ketika logika lama kita berhasil dibongkar, percayalah tidak sulit bagi kita untuk menjadi pelaku firman. Karena logika lama inilah yang seringkali menghalangi kita untuk menjadi pelaku firman. Logika lama cenderung menentang firman dan terus mempertanyakan apa yang disampaikan pemimpin. Dan jika kita biarkan, tanpa sadar kita jadi orang yang menolak firman.

2 Korintus 10 : 5 Kami mematahkan setiap SIASAT orang dan merubuhkan setiap KUBU yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami MENAWAN SEGALA PIKIRAN dan MENAKLUKKANNYA kepada Kristus,

Kata siasat dalam bahasa Yunani disebut Logismos, artinya perhitungan, menghitung, menimbang, memiliki asal kata logizomai. (Roma 6:11 – demikianlah hendaknya kamu memandangnya (logizomai)). NKJV mencatat kata siasat sebagai imagination.

Sekarang saya mengerti untuk menjadi pelaku firman memang selalu akan berhadapan dengan pemikiran untung rugi, dan itu pasti menguasai imajinasi kita. Dan siasat (logika lama) ini kalo dibiarkan, akan bertumbuh menjadi kubu (dari kata hupsoma (NKJV high thing) yang artinya sesuatu struktur yang tinggi, suatu penghalang (barrier).

Rasul Paulus berkata setiap pikiran ini harus ditawan dan ditaklukkan (hupakoe, dibawa dalam ketaatan (obedience), penundukan (submission)). Perhatikan prinsip ini: logika lama ini selalu cenderung menentang, tidak mau tunduk dan tidak taat kepada firman. Karena memang ini NATUREnya ! Sebagai akibatnya, mereka yang masih terus membawa logika lama, pasti sulit/tidak bisa menjadi pelaku firman!!!

Oleh karenanya kita membutuhkan pembaharuan akal budi (Roma 12:1-3). lakukan perombakan logika lama dengan bertekun (Yak 1:25), meneliti hukum yang sempurna.

TIDAK ADA JALAN LAIN, hanya dengan BERTEKUN DALAM PENGAJARAN PARA RASUL, kita pasti alami perombakan akal budi menjadi memiliki pikiran Kristus: pikiran kita berhasil ditawan dan ditundukkan mengikut prinsip firman, ditundukkan kepada hukum roh dan kehidupan! Barulah kita menikmati efek dimerdekakan dari segala jenis perhambaan, menjadi anak-anak Allah, dan alami posisi yang berkemenangan dalam hidup sehari-hari.

Terjadilah dalam nama Yesus! #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus