Top

30 Mei 2020

Seringkali tanpa kita sadari, diri kita rela memperjuangkan hal – hal yang lahiriah bahkan fana. Terkadang demi hal itu terwujud kita rela banting tulang peras keringat, dan memberikan waktu ekstra. Padahal yang Tuhan kehendaki, kita ‘memperjuangkan’ hal yang ilahi dan rela melakukan apa pun juga demi meraih hal itu.

 

Inilah hal esensial yang Tuhan ingin kita perjuangkan, raih, dan pertahankan dalam hidup sehari – hari : “Hati yang lapar dan haus akan realita Tuhan dan firman-Nya”.
Roh Kudus terus mendorong saya untuk menjagai hati tersebut dengan mati – matian, gila – gilaan, dan habis – habisan. Sebab hal tersebut layak untuk kita perjuangkan karena hanya bersama dengan realita-Nya, kita akan sanggup melakukan perkara besar (mengadakan pemulihan segala sesuatu) dan hanya oleh iman kita akan mengalahkan dunia.

 

Jujur, mempertahankan hati yang lapar dan haus akan realita dan firman-Nya bukanlah perkara yang mudah. Tidak semua orang mau berfokus dan mempertahankan hal tersebut. Hal – hal eksternal seringkali membuat kita ter-distract dan memberikan pilihan ‘kemudahan dan kenyamanan’ hidup daripada harus berjuang dan ngotot mempertahankan hati yang haus dan lapar akan Tuhan! Tapi suka atau tidak, memang hal itulah yang ditetapkan Tuhan bagi kita. Itulah pertandingan iman kita setiap hari. Jadi, mari kita tuntaskan hal itu dengan sebaik mungkin.

 

Paulus telah memberikan kita contoh dan hasil saat dia mempertahankan dan memperjuangkan hati yang haus dan lapar akan Tuhan. Ia menjadi pribadi yang merepresentasikan Kristus di atas bumi ini. Ia juga menjadi manusia Allah yang diakui sendiri oleh iblis di alam roh dan memiliki posisi rohani yang ‘diperhitungkan’ sama seperti Kristus.

 

Oleh karena itu kita perlu mengadopsi mentalitas Paulus dalam menjagai hati yang lapar dan haus akan Tuhan melalui ayat – ayat di bawah ini :

 

1. Tubuh kita harus digembleng untuk mengikuti keinginan Roh!

 

Doa dalam roh yang kuat dan deklarasi firman, juga menyembah harus dilakukan secara ‘all out‘ sampai Tuhan menjamah hidup kita. Itu harus menjadi gaya hidup kita sehari – hari.

 

1 Korintus 9:24-27 (FAYH) Dalam suatu perlombaan semua peserta ikut lari, tetapi yang mendapat hadiah pertama hanya seorang. Jadi, berlombalah untuk mencapai kemenangan. Supaya menang dalam pertandingan, kita harus menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat menghambat usaha kita. Seorang atlet bersusah payah seperti itu hanya untuk menggondol medali atau piala, sedangkan kita melakukannya untuk mendapat hadiah surgawi yang tidak akan hilang. Jadi, saya lari menuju sasaran dengan tujuan yang pasti. Saya berjuang untuk menang. Saya tidak berlaku seperti seorang petinju yang memukul-mukul angin atau berayal-ayal. Seperti seorang atlet saya menggembleng tubuh saya, melatihnya melakukan hal-hal yang harus dilakukan dan bukan hal-hal yang dikehendakinya. Sebab, kalau tidak, saya takut kalau-kalau setelah mempersiapkan orang-orang lain untuk perlombaan, saya sendiri dinyatakan tidak memenuhi syarat, lalu ditolak.

 

2. Menetapkan satu tujuan saja, yaitu menjadi serupa dengan Kristus dan mengalami kepenuhan Kristus!

 

Itulah tujuan kita, bukan yang lain! Yang lain harus kita anggap sampah. Kemuliaan dari tujuan itu tidak bisa disandingkan dengan apa pun yang ada di dunia ini. Jadi itu layak untuk diperjuangkan dan diraih dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan.

 

Filipi 3:8-12 (FAYH) Ya, segala sesuatu yang lain tidak berharga, bila dibandingkan dengan besarnya keuntungan yang saya peroleh dari pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhan saya. Saya telah mengesampingkan segala sesuatu yang lain dan menganggapnya sampah, supaya saya dapat memiliki Kristus serta menjadi satu dengan Dia. Saya tidak lagi menggantungkan keselamatan saya pada perbuatan baik atau ketaatan kepada hukum Allah, melainkan kepada kepercayaan bahwa Kristus menyelamatkan saya, sebab Allah membenarkan kita di hadapan hadirat-Nya atas dasar iman kita, yaitu berharap hanya kepada Kristus saja. Sekarang saya telah melepaskan semua hal lain. Saya sadar bahwa itulah satu-satunya cara untuk mengenal Kristus dengan sungguh-sungguh, untuk mengalami kuasa yang menghidupkan-Nya kembali, serta untuk mengerti apakah artinya menderita dan mati bersama dengan Dia. Oleh karena itu, apa pun akibatnya, saya akan hidup di dalam kesegaran hidup baru yang dinikmati oleh mereka yang telah dibangkitkan dari antara orang mati. Saya tidak bermaksud mengatakan, bahwa saya sudah sempurna. Sampai sekarang masih banyak yang harus saya pelajari. Tetapi saya berusaha terus hingga akhirnya saya menjadi seperti yang diinginkan oleh Kristus, yang telah menyelamatkan saya.

 

3. Pagi ini saya berketetapan untuk menjadi ‘gila’ (generasi ilahi) sama seperti Paulus!

 

Memang tidak ada cara lain untuk menghadirkan realita Kristus semakin nyata selain menjaga hati yang haus dan lapar akan Tuhan, dan fokus pada pengenalan akan Tuhan untuk menjadi serupa dengan Kristus dan mengalami kepenuhan Kristus.

 

Saya mau lakukan bagian saya dengan sebaik mungkin, maka Roh Kudus yang melihat kecenderungan hati saya akan menolong saya mewujudkan keinginan hati Bapa untuk saya mengalami keserupaan dan kepenuhan Kristus di atas bumi ini. Hanya melalui jalan ini kita akan mengalahkan dunia dan menghadirkan Kerajaan-Nya di atas bumi ini. #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus