Top

30 Oktober 2019

Message ini adalah kelanjutan dari message kemarin.

4. Akulah El Shadday – Allah Yang Mahakuasa, yang memelihara dengan kelembutan dan kasih sayang (Kej 17:1, 35:11)

Menarik untuk memperhatikan momen saat Tuhan menyatakan DiriNya sebagai El Shadday dalam hidup Abraham dan Yakub (Kej 17:1, 35:11). Abraham baru saja melewati satu masa ketidakakuratan yang cukup panjang karena mengambil Hagar sebagai gundiknya dan lahirnya Ismael (Kej 16:1-16) sedang Yakub sendiri baru menghadapi badai masalah besar berkaitan dengan keluarganya (Kej 34:1-31).

Tuhan datang dalam hidup tokoh iman yang sedang ‘terbelenggu oleh masalah besar’ tersebut – bahkan berpeluang menyerongkan perjalanan destiny yang sudah Tuhan tetapkan atas keberadaan mereka sebagai El Shadday. Dia membenahi, memberi arahan dan memulai kembali perjalanan iman mereka yang pernah terganjal akibat ketidakakuratan mereka di masa lalu.

Dalam Alkitab LAI TB, nama “El-Shaddai” (אֵל שָׁדַּי) diterjemahkan sebagai “Allah yang Mahakuasa”. Alasannya adalah karena kata “shaddai” (שָׁדַּי) dipandang berhubungan dengan kata “shadad” (שָׁדַד) atau “lish’dod” (לְשְׁדוד) yang berarti “mengalahkan, menghancurkan”.

Namun, kata “shaddai” (שָׁדַּי) bisa juga dikaitkan dengan kata yang lain. Kata “shad” (שָׁד) dari segi tata bahasa lebih dekat dengan kata “shaddai” (שָׁדַּי), dan dalam Leksikon Ibrani artinya dijelaskan sebagai berikut: 1) breast, bosom, (female) breast 1a) breast (of woman) 1b) breast (of animal)).

Singkatnya, “shad” (שָׁד) berarti “buah dada”. Akhiran “i” atau “ai” adalah akhiran yang menunjukkan pemilik, dalam hal ini artinya adalah “Ku”. Maka secara harfiah “El Shaddai” bisa berarti “Allah (adalah) buah dadaku”. Alkitab terkadang menyajikan gambaran yang feminin tentang Allah, dan nama “El Shaddai” adalah salah satunya.

Menurut Towns (1995), nama EL SHADDAI di samping menyatakan kemahakusaan Tuhan, juga menunjukkan kelembutan Tuhan dalam memelihara kita. Hal itu karena kata SHADDAI dan SHAD dalam bahasa Ibrani mempunyai arti yang sama dengan dada atau buah dada (Kej 49:25; Ayb 3:12; Mzm 22:10). Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan itu seperti seorang ibu yang menyusui anaknya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Jadi EL SHADDAI adalah Tuhan yang Mahakuasa sekaligus lemah lembut dalam memelihara anak-anak-Nya.

Pada masyarakat zaman dahulu, buah dada merupakan salah satu simbol utama dari rezeki. Allah adalah buah dadaku berarti Allah bagaikan buah dada yang menyusuiku, mencukupi segala nutrisi atau kebutuhan utamaku, memberi aku kehangatan dan rasa aman. Buah dada juga merupakan simbol bahwa kasih Allah disampaikan melalui kasih orangtua.

Jadi daripada menerjemahkannya sebagai “Allah mahakuasa” yang terkesan maskulin, mungkin lebih baik menerjemahkannya sebagai “Allah Mencukupi Segalanya”.  Seorang bayi yang masih menyusu tidak membutuhkan makanan dan minuman lain selain air susu yang mengalir dari buah dada ibunya.

Menurut Towns (1995) keperkasaan dan kelembutan EL SHADDAI sangat nyata saat kita menghadapi masalah atau mempunyai kebutuhan-kebutuhan. Di satu sisi, Tuhan itu lembut dan penuh kasih sayang sehingga mengerti masalah-masalah kita. Allah peduli. Di sisi lain, Tuhan berkuasa untuk memecahkan semua masalah kita.

Dengan kita mengakses dimensi El Shadday, kita akan menikmati kelembutan Tuhan yang dalam kasih dan keperkasaanNya berkenan utk memulai sesuatu yang baru dalam hidup kita – give us a fresh starting point.

Saya berdoa, tidak peduli apapun yang menjadi ketidakakuratan yang pernah kita lalukan di masa lalu, dalam kasih, kelembutan dan keperkasaanNya, Roh Kudus akan kembali memberi arahan, tuntunan untuk dapat kita jalani. Dan ketika roh ketaatan bekerja dalam hidup kita, mendorong kita untuk melangkah mengikuti arahanNya, kita akan mulai mendapati bagaimana Tuhan menuntun kita untuk kembali menjalani perjalanan destiny yang sudah Ia tetapkan jauh sebelum dunia ini ada bagi hidup kita! Dan kembali hidup kita ada pada pusat kehendakNya yang sempurna! #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus