Top

31 Agustus 2019

Alkitab menuliskan dengan jelas segala kebenaran yang dilakukan oleh para tokoh – tokoh iman. Tapi juga tidak menutupi berbagai ketidak benaran yang juga dilakukan. Bahkan kebobrokan pada areal rumah tangga juga dituliskan dengan gamblang. Dari Abram yang meniduri Hagar gundiknya.

 

Musa yang mengambil istri perempuan Kusy. Bahkan Daud yang memiliki beberapa istri. Ada banyak para pemimpin di Alkitab yang memiliki kehidupan keluarga yang tidak utuh. Lebih “anehnya” lagi “seolah” Tuhan “hanya berdiam” ketika melihat mereka mengambil banyak istri. Tidak ada tindakan “penghukuman” dari Tuhan bagi mereka.

 

Dari hal di atas saya belajar beberapa hal:

 

1. Dari sejak awal pola Tuhan sudah sangat jelas. Tuhan menciptakan Adam dan Hawa.

 

Satu pria dan satu wanita. Tuhan tidak menciptakan Adam, Hawa, dan ketiga istri Adam lainnya. Tidak! Hanya satu! Yaitu Hawa! Itu adalah pola. Satu suami dan satu istri! Itu adalah kebenaran! Ketika manusia jatuh dalam dosa, dari sejak itulah manusia terus alami kemerosotan dalam areal rumah tangga.

 

Keluarga Nuh yang “akan digadang – gadang” menjadi keluarga contoh juga akhirnya gagal! Ham mempermalukan/menginjak martabat kepemimpinan Nuh dengan cara meniduri istri Nuh. Manusia akhirnya “mulai menganggap” “tidur meniduri” dalam mengikuti hasrat seksual merupakan hal yang biasa/ lumrah.

 

Jadi, walaupun sudah ada istri satu, pasti “merasa kurang puas”. Minimal juga ada gundik! Itulah kondisi rumah tangga para tokoh – tokoh Alkitab.

 

2. Apa yang mereka lakukan sebenarnya langsung mendapatkan penghukuman seketika.

 

Lihat saja kondisi rumah tangga mereka yang penuh percekcokan. Abraham sampai harus mengusir Hagar dan Ismael – darah dagingnya sendiri. Yakub yang penuh gejolak kecemberuan antara para istri.

 

Dan Daud yang dikelilingi oleh anak – anak yang penuh dendam. Gila! Mereka menjalani kehidupan yang “stress” dalam berumah tangga. Alkitab jelas menuliskan itu semua.

 

Saya yakin, Musa pun mengalami gejolak rumah tangga yang kurang lebihnya sama.

 

3. Tidak ada kata CERAI. Sejak awal tidak ada KAMUS itu dalam Tuhan.

 

Polanya sudah sangat jelas tertulis pada penciptaan Adam dan Hawa (Kej 2:24 – BERSATU – Perhatikan ayat ini Efesus 5:31-32) Bukan BERCERAI. Bercerai adalah sifatnya iblis!

 

Ketika iblis berhasil “menceraikan/ memisahkan” manusia dari Tuhan (jatuh dalam dosa), sejak itulah akhirnya manusia mengenal perceraian! Tuhan membenci perceraian! Karena itu adalah DOSA! Tuhan memang mengasihi orang yang berdosa tapi Dia tidak pernah kompromi dengan dosa! (Maleakhi 2:13-16)

 

4.”Hati – hati” saat kita membaca Alkitab tanpa memahami pola awal yang Tuhan tetapkan, khususnya pada areal rumah tangga.

 

Karena para tokoh – tokoh Alkitab yang menjadi pemimpin dan orang berpengaruh memang menunjukkan pola berumah tangga yang memiliki istri banyak dan hidup dalam perceraian. Tapi itu semua bukan kebenaran! Apalagi bercerai, itu bukan pola Tuhan. Itu pola iblis yang dipakai di taman Eden, “menceraikan” manusia dengan Tuhan.

 

Jadi siapapun “pemimpin” atau orang berpengaruh di zaman sekarang yang membenarkan perceraian dengan dalil – dalil ayat Alkitab merupakan hal yang TIDAK BENAR! Jadi, kita tidak boleh menjadikan mereka sebagai patokan! Apalagi turut membenarkan alasan perceraian. Jika itu yang terjadi, sesungguhnya kita sedang membangun KEBENARAN DIRI SENDIRI yang adalah KEPALSUAN/ DUSTA IBLIS.

 

5. Betapa penting kita memiliki PIKIRAN KRISTUS.

 

Tanpa kita memahami pola awal yang Tuhan tetapkan dan prinsip – prinsip dasar kebenaran dengan akurat, maka hidup kita akan mudah tersesatkan untuk melakukan hal yang tidak benar. Sadarilah, ada banyak orang yang melakukan ketidak benaran disebabkan karena ia MEMAHAMI HAL YANG SALAH.

 

Begitupun orang yang melakukan hal yang benar, itu dikarenakan ia MEMILIKI PIKIRAN KRISTUS (memahami kebenaran firman) Jadi, untuk melakukan hal yang benar, dibutuhkan tekad, kecenderungan hati yang tertuju kepada kebenaran, dan PEMAHAMAN yang akurat. Sehingga kita tidak bisa tersesat oleh segala bentuk pengajaran dan filosofi dunia ini.

 

6. Dari mana kita bisa mengetahui hal yang benar? Dari membaca firman, merenungkan firman

 

Pakai ayat firman menjadi bahan perenungan sambil doa dalam bahasa roh, deklarasikan sampai Roh menjelaskan, lalu tuliskanlah (pastikan kecederungan hati kita mencintai Tuhan dan kebenaran) Dan bertekunlah dalam pengajaran rasuli (orang yang membawa pola ilahi) agar kita dapat terhubung dengan pengenalan akan Tuhan yang benar/ akurat!

 

Pasti kita akan mengenal Tuhan yang memimpin kita berjalan dalam kebenaran!

 

7. Tuhan tidak pernah berdiam atas segala ketidakuratan para pemimpin di Alkitab.

 

Sebab Ia telah berfirman sejak dari awal. Polanya sudah ditunjukkan oleh Tuhan! Namun Tuhan tidak pernah memaksa! Manusia punya kehendak bebas, termasuk para pemimpin. Mereka telah menerima konsekuensinya secara langsung, kondisi rumah tangga mereka jadi “seperti neraka” di atas muka bumi ini. Pastinya kita tidak mau seperti itu!

 

Pastikan kita mencintai Tuhan dan mencintai kebenaran. Sehingga KEBENARAN menjadi pelindung kita dari segala dusta; sukacita dan damai sejahtera menjadi nyata dalam hidup sehari – hari seperti di surga. Kerajaan Surga nyata di atas muka bumi ini. #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus