Top

31 Desember 2019

Dalam salah satu doa, Tuhan menyatakan kepada saya bahwa di tahun 2020 nanti ada banyak hamba-hamba Tuhan besar yang di masa lalu pernah mengalami luka-luka yang parah akan Tuhan pulihkan dan akan Tuhan bawa kembali memasuki gelanggang pelayanan; tapi kali ini dengan tingkat keakuratan hidup yang lebih layak untuk diteladani.

 

Tuhan menghendaki untuk saya, jemaat BCC dan keluarga besar SnS (dan sekarang, seluruh pembaca Daily Devotion ini) bersiap diri dan menerima keberadaan hamba-hamba Tuhan yang sedang terluka tersebut.

 

Tuhan menyatakan, dibutuhkan suatu komunitas keluarga rohani yang sehat dan kuat untuk menerima hamba-hamba Tuhan yang terluka tersebut dan merawat kehidupan rohani mereka hingga sembuh atau pulih sepenuhnya. Dan jika Tuhan menyatakan itu kepada kita, artinya Tuhan sedang mengkondisikan diri kita untuk bersiap-siap menerima keberadaan mereka.

 

1. Dibutuhkan kebesaran jiwa dan kasih Ilahi untuk dapat menerima mereka yang sedang terluka dan berkorban untuk terjadinya pemulihan dalam hidup mereka.

 

Alkitab menceritakan tentang perumpamaan yang Yesus berikan kepada para ahli Taurat yang sedang menguji Diri-Nya: Kisah tentang orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37). Dalam perumpamaan itu Yesus menegaskan bahwa ‘sesamamu manusia’ tidak boleh dibatasi oleh apa pun; tidak peduli apa yang menjadi warna kulit, status sosial ataupun masa lalu orang yang bersangkutan, semua itu tidak boleh membatasi penerimaan ataupun ekspresi kasih kita! Termasuk diantaranya adalah ‘rasa kecewa atau ganjalan hati’ akibat kita merasa syak dengan keberadaan hamba-hamba Tuhan senior yang dulu pernah sangat memberkati kita tapi kemudian jadi sangat mengecewakan diri kita!

 

Dengan kita meminta Tuhan memberi kebesaran jiwa dan kasih Ilahi yang meluap-luap, kita akan dapat berfungsi seperti orang Samaria yang baik hati dan tidak memilih-milih dalam berbuat baik. Kita akan menjadi Tangan Tuhan yang bertindak membebat hidup para hamba Tuhan senior yang sedang terluka tersebut.

 

2. Dibutuhkan ketulusan dan kasih yang murni dalam berinteraksi satu sama lain.

 

Saya berdoa, biarlah Tuhan terus membersihkan kehidupan setiap kita sehingga yang tersisa hanyalah ketulusan dan kemurnian. Saya percaya, terlepas dari pekerjaan Roh dan firman yang memang sangat dibutuhkan untuk pemulihan para hamba Tuhan senior yang terluka tersebut, ketulusan kita dalam mengasihi dan kemurnian kita dalam membangun hubungan atau berinteraksi satu sama lain, akan ikut memainkan peranan penting untuk terjadinya pemulihan hidup dari para hamba Tuhan tersebut.

 

Dahulu mereka pernah dilukai dan dikhianati secara keji – terlepas akibat dari masih adanya ketidakakuratan tertentu dalam hidup mereka, tapi mereka terluka akibat adanya ketidaktulusan dan ketidakmurnian dalam suatu hubungan. Tapi dengan merasakan ketulusan dan kemurnian yang Tuhan bangun dalam hidup kita, para hamba Tuhan tersebut akan mengalami pemulihan dan kebangkitan kembali!

 

3. Dibutuhkan hikmat, kerendahan hati dan keakuratan dalam membawa diri.

 

Saya yakin, Tuhan sedang terus membaptis diri kita dengan pewahyuan firman terkini. Dan hal tersebut otomatis memposisikan diri kita ‘ada di atas’ banyak orang – khususnya di kalangan para hamba Tuhan. Tapi demi untuk berfungsi menjadi ‘balsam Gilead’ yang Roh Kudus pakai untuk menyembuhkan luka-luka para hamba Tuhan tersebut, kita harus tahu bagaimana berkata-kata merepresentasikan firman yang kita hidupi dan yakini tersebut di hadapan mereka semua.

 

Kita tidak boleh mempergunakan penyingkapan firman yang kita terima untuk ‘menghantam’ – mengoreksi dan menghakimi kehidupan masa lalu mereka. Sebaliknya, kita harus tahu bagaimana mempergunakan penyingkapan pewahyuan firman yang kita terima tersebut justru untuk memberi mereka pengharapan baru, kekuatan roh yang baru sehingga mereka akan dipulihkan dan dibangkitkan kembali seperti Rajawali yang menerima bulu-bulu baru dan siap untu terbang lebih tinggi!

 

Bagaimanapun hamba-hamba Tuhan yang terluka ini memang sudah sama seperti Simson – buta (kehilangan visi), berputar-putar menggiling gandum (jadi memiliki kehidupan yang terikat oleh sistem Babel, hanya bisa sibuk mencari sesuap nasi guna menyambung hidupnya) dan menjadi bahan tertawaan musuh (Simson disuruh melawak di hadapan orang Filistin) – tapi satu kali lagi Tuhan akan memulihkan hidup mereka dan Tuhan akan memakai mereka untuk habis-habisan, mati-matian menghancurkan pekerjaan musuh! Dan Tuhan berkenan untuk memakai hidup kita menjadi ‘tipping point‘ dalam kehidupan mereka!

 

Saya berdoa, biarlah nature Kristus yang selalu siap untuk memberi makan bagi mereka yang lapar, membebat bagi mereka yang terluka dan memberi harapan baru bagi mereka yang sedang putus asa terus terbangun dalam hidupmu dan termanifestasi dalam kehidupan sehari-harimu. #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus