Top

31 Januari 2020

Message ini adalah kelanjutan message kemarin

1. Tuhan selalu membutuhkan kehidupan seseorang yang bisa Dia pakai menjadi wakil-Nya (representasi Diri-Nya) di bumi ini.

 

Di saat Yesus ingin ‘memperkenalkan’ Gereja-Nya, ada Petrus yang dapat Tuhan pakai untuk mengalami dinamika pekerjaan firman dan Roh dan menyatakan dinamika pewahyuan tentang pekerjaan Bapa, Sang Anak dan Roh yang menjadi dasar atau fondasi otoritas  dan posisi rohani dari Gereja Tuhan.

 

Tapi kita mendapati, meski Bapa bisa memakai Petrus untuk menyatakan dinamika keterhubungan antara Dia, Putra dan Roh yang menjadi dasar dari posisi rohani dan otoritas Gereja, dengan sekejap Petrus pun kembali memiliki kehidupan yang ‘terbuka’ untuk dipakai oleh si Jahat (Matius 16:21-23).

 

Untuk Gereja kembali dapat menerima bekerjanya dimensi pewahyuan firman dan Roh seperti yang seharusnya sehingga Gereja Tuhan kembali menyatakan keilahian, keakuratan dan otoritas yang berkemenangan dalam kehidupan sehari-hari, dibutuhkan hamba-hamba Tuhan yang mau hidup dalam kematian daging! (Matius 16:24).

 

Tanpa adanya hamba-hamba Tuhan yang bersedia menjalani hidup dalam kematian daging, kita tidak akan menemukan adanya hamba Tuhan yang ‘dititipkan’ firman dari ruang takhta guna memeteraikan dahi para hamba Tuhan lain (Wahyu 7:2-3). Padahal meterai firman di dahi para hamba Tuhan ini sangatlah dibutuhkan untuk ‘menangkal’ berbagai bencana dan wabah yang banyak merebak di bumi ini – memastikan orang-orang benar terus hidup berkemenangan dan ada ‘di atas’ segala yang terjadi di bumi ini (Wahyu 9:1-4). Dinamika pewahyuan firman dan Roh yang dialami dan dinikmati oleh orang-orang percaya jadi menentukan posisi rohani dan tingkat otoritas yang mereka bawa dalam kehidupan sehari-hari.!

 

2. Memberi diri untuk dipakai Tuhan, itu mudah tapi memberi diri untuk menjadi representasi Tuhan, membutuhkan adanya proses pembentukan Tangan Tuhan

 

Untuk Tuhan memakai seseorang, Dia bisa memakai siapapun yang Dia mau pakai – terkadang tanpa orang yang bersangkutan menyadari bahwa dia sedang dipakai oleh Tuhan untuk merealisasikan suatu tujuan tertentu. Tapi tentu saja hal ‘dipakai Tuhan’ itu ada batasan waktu atau tujuan; jika tujuan Tuhan sudah tergenapi dan Tuhan tidak lagi ‘membutuhkan’ orang yang bersangkutan, maka orang itu pun akan ‘begitu saja’ dibawa meninggalkan gelanggang pelayanan atau ‘panggung’ penggenapan rencana Tuhan.

 

Berbeda dengan menjadi representasi Sorga. Semua kualifikasi yang dibutuhkan, yang bersifat Ilahi dan mengkondisikan seseorang hidup dalam keakuratan atau ada dalam keharmonian dengan agenda kerajaan sorga harus sudah terbangun secara kokoh!

 

Dibutuhkan terbangunnya pola sorga – mau mengosongkan diri sama seperti Kristus (Filipi 2:5-11) dalam kehidupan orang-orang yang mau menjadi representasi Sorga! Dibutuhkan para hamba Tuhan yang sudah mewarisi pikiran Kristus dan menjalani kehidupan sehari-harinya sesuai dengan takaran iman yang memang sudah Tuhan tetapkan bagi dirinya (Roma 12:2-3, 1:17)

 

Mereka yang terus memberi diri untuk mengalami pekerjaan firman dan Roh yang membuat mereka jadi selalu haus-lapar akan kebenaran dan realita Tuhan akan mendapati bagaimana kehidupan daging, manusiawi dan lahiriah secara perlahan tapi pasti akan makin ‘terhapus’ dari hidupnya, digantikan dengan kodrat ilahi (divine nature) yang membuat mereka jadi makin hidup dalam keilahian Tuhan!

 

Kita memang masih hidup dalam dunia ini dan masih ‘mengenakan’ tubuh lahiriah yang terdiri dari darah dan daging, tapi sesungguhnya kita adalah Ciptaan Baru! Keberadaan kita sebagai Ciptaan Baru adalah terdiri dari Roh dan Kebenaran (Yohanes 3:5-8, 1 Yohanes 3:19).

 

Mereka yang menjadi representasi sorga adalah mereka yang sudah menjalani hidup sebagai makhluk-makhluk sorgawi – memiliki kehidupan sehari-hari yang dibangun di atas dasar firman-Nya! (1 Korintus 15:45-49). #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus