Top

31 Juli 2018

Manusia hidup selalu identik dengan memiliki keinginan. Itu memang wajar-wajar saja. Tapi terhadap berbagai keinginan yang berasal dari kedagingan, dosa, hati yang bengkok, Tuhan menegaskan untuk kita harus membuangnya dari kehidupan kita.

Roma 6:11 Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: BAHWA KAMU TELAH MATI BAGI DOSA, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.

Bagi orang yang sudah mati, tidak ada lagi keinginan dalam hidupnya. Bahkan ketika orang mati tersebut di beri berbagai iming-iming yang semasa hidupnya sangat dia sukai, orang mati tersebut sudah tidak bisa bereaksi. Demikianlah seharusnya kondisi kita dalam hidup sehari-hari; sudah tidak bisa lagi mengekspresikan berbagai keinginan dari kedagingan, dosa ataupun keinginan dari hati yang bengkok.

Karena kita ‘sudah mati’! Melalui karya kelahiran baru yang dilakukan oleh Roh Kudus sendiri dan dilanjutkan dengan ketekunan orang yang bersangkutan dalam merenungkan firman – mengubah nature dari pikirannya yang belum diperbaharui, membangun logika Ilahi/ membangun pikiran Kristus – maka manusia lama dan berbagai jenis keinginan yang merusak tersebut sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk memanifestasikan dirinya lagi.

Tapi kita khan masih hidup? Betul, tapi kehidupan yang sekarang kita jalani adalah jenis kehidupan yang berbeda. Kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri (sehingga terus membuka peluang untuk berbagai keinginan yang bersumber dari kedagingan, dosa & hati yang bengkok terus bersuara dan mempengaruhi hidup kita) Sekarang kita hidup hanya bagi Tuhan!

Roma 6:11 Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, TETAPI KAMU HIDUP BAGI ALLAH DALAM KRISTUS YESUS.

Hidup bagi Allah memiliki arti:

1. Kita terus mencari tahu apa yang Dia inginkan/ sukai dan kita merealisasikannya.

Kita bisa mengenali apa yang Dia inginkan dari firman tertulis yang di hidupkan oleh Roh Kudus; kita juga akan mulai mengenali kerinduan hatiNya melalui persekutuan pribadi yang kita bangun dengan Dia. Tuhan tidak pernah menyatakan keinginan hatiNya untuk memiliki Rumah di bumi ini. Tapi melalui persekutuan pribadi yang Daud miliki dengan Tuhan, Daud menangkap kerinduan hatiNya untuk bisa tetap tinggal dekat dengan umat pilihanNya. Dari situlah Daud berinisiatif untuk membangun Bait yang megah – fit for the King – bagi Tuhan! (1 Taw 17:1-27)

2. Kita terus membuka diri untuk menyelaraskan kenginan hati kita dengan keinginan hatiNya; kita mengadopsi keinginan hati Tuhan menjadi keinginan hati kita.

Dalam perjalanan rohani yang akan kita jalani bersama Tuhan, akan ada banyak keinginan hati Tuhan yang bakal Roh Kudus nyatakan kepada kita. Meskipun sepertinya kita ‘tidak memiliki hati’/ tertarik tentang hal tersebut, tapi ketika kita alami Roh menyatakan kerinduan hati Bapa, karena sekarang kita hidup bagi Dia, kita harus segera membuka hati untuk Roh menanamkan kerinduan hati Bapa tersebut ke dalam hati kita sehingga kitapun mulai mengingini hal yang sama…!

Biasanya kerinduan hati Bapa ini selalu memiliki keterkaitan dengan ORANG dan RUMAHNYA (Mat 9:35-38, Yoh 2:13-22)

3. Membangun kehidupan yang berpusatkan Kristus; hidup sebagai seorang penyembah (Yoh 4:23-24)

Esensi hidup sebagai seorang penyembah dalam kehidupan sehari-hari:

a. Apapun yang kita lakukan dalam hidup sehari-hari kita lakukan dengan motivasi dan kesadaran untuk Tuhan (Rom 12:1, Kol 3:23-24) Kata Ibrani yang dipakai untuk menjelaskan tentang bekerja dan menyembah adalah sama: Avodah. Maksudnya, dalam bekerja-pun kita bisa lakukan sebagai suatu bentuk penyembahan kita kepada Tuhan.

b. Di tengah kesibukan aktifitas hidup sehari-hari, kita sengaja mengingat Tuhan dan menaikkan ucapan syukur kita kepadaNya (Yes 26:8-9, Kol 3:17)

c. Dengan kesadaran penuh kita melakukan suatu pengorbanan tertentu sebagai wujud dari ucapan syukur/ ekspresi kasih kita kepadaNya (Kej 4:4, 8:20-21; Kel 35:21-29, 1 Sam 15:22-23, 2 Sam 23:14-17)

Mulai hari ini, mari kita bangun ‘kehidupan bagi Allah’ dalam kehidupan sehari-hari kita. #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus