Top

31 Maret 2020

1 Korintus 13:13 (TB)  Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

 

Kehidupan kekristenan yang sejati sangat dipengaruhi oleh ketiga aspek tersebut: Iman, Pengharapan dan Kasih!

 

1. Untuk seseorang mulai memiliki dan hidup di dalam dimensi iman, pertama-tama dibutuhkan keterhubungan kembali dengan keberadaan Bapa di sorga karena dari Dialah seseorang akan mulai menerima firman, dan firman adalah unsur utama untuk seseorang dapat memiliki iman dalam hidupnya (Roma 10:17)

 

Di sinilah keberadaan Roh Kudus memegang peranan penting. Hanya Roh Kudus yang bisa membawa seseorang kembali terhubung dengan Bapa. Roh Kudus pula yang membawa firman dari Bapa ke dalam hidup seseorang dan melalui pekerjaan Roh dalam hidup seseoranglah firman dari Bapa akan mulai tertanam dan bertumbuh menjadi benih iman dalam kehidupan seseorang.

 

Kala seseorang mulai memiliki kehidupan iman, dalam arti orang yang bersangkutan mulai mengambil keputusan untuk ‘lebih mempercayai’ apa yang Tuhan katakan tentang suatu aspek kehidupan dan memutuskan untuk tidak lagi mempercayai apa pun data dan fakta lahiriah (yang berbeda dengan firman yang sudah Ia terima dari Tuhan). Sesungguhnya ia sedang terus menyelaraskan langkah kehidupannya dengan apa yang Tuhan sudah katakan. Ia bertindak untuk mendisiplin diri mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mulai terus mengambil keputusan yang selaras dengan apa yang ia yakini, yang berasal dari Tuhan. Walau bukan sesuatu yang mudah untuk dijalani, tapi orang yang bersangkutan harus terus bertekun untuk melangkah di jalan yang Tuhan nyatakan kepadanya tersebut. Tindakan bertekun itulah yang membawa orang yang bersangkutan jadi terus menikmati kehidupan yang penuh keIlahian dan bahkan mukjizat.

 

2. Seseorang yang terus ‘menggosok’ dirinya dengan firman hingga hatinya berkobar-kobar akan menikmati aspek pengharapan dalam dirinya jadi sekuat batu karang.

 

Pengharapan disebut dalam Alkitab akan berfungsi sebagai sauh atau jangkar yang sudah dilabuhkan di belakang tabir yang memberikan rasa aman dan rasa pasti dalam jiwa atau emosi seseorang (Ibrani 6:19).

 

Orang percaya yang terus bertumbuh dalam pengharapan, otomatis akan selalu menikmati adanya sukacita dan rasa optimistis dalam batin, emosi atau jiwanya. Berbeda dengan orang-orang yang terus menyimpan ganjalan dalam hidupnya dan menyimpan berbagai emosi negatif, dia akan mendapati bagaimana hidupnya menjadi pribadi yang ‘ringkih’ – mudah putus asa, merasa gagal, merasa tidak berdaya dan sebagainya.

 

Satu-satunya cara untuk memutus siklus kekalahan yang sedang menguasai hidupnya (akibat Musuh berhasil mencuri aspek pengharapan dalam hidupnya) tidak lain adalah melakukan pembaharuan akal budi dengan menggunakan firman! Sebagai orang percaya, otomatis kita akan selalu hidup dalam kepenuhan pengharapan kala kita terus mendisiplin diri dalam melakukan perenungan firman!

 

Dari bekerjanya kuasa firman dalam kehidupan seseorang, orang yang bersangkutan akan kembali menikmati adanya suatu kepastian, rasa aman dan keoptimisan yang membuat aspek emosi atau jiwanya menjadi sehat.

 

3. Aspek kasih (yang disebut dalam Alkitab sebagai yang terbesar dari antara ketiganya) akan dapat dinikmati dan terus ditumbuhkan kala orang percaya terus menjagai dimensi persekutuan pribadinya dengan Bapa.

 

Melalui doa, penyembahan dan pembacaan firman, seseorang terus menjagai dimensi persekutuan pribadinya dengan Tuhan. Dari memiliki hati yang terus haus-lapar akan Tuhan, terus melekat kepada-Nya sebagai ‘pokok anggur yang benar’, seseorang akan menikmati aliran kasih ilahi memenuhi hidupnya – mencetak ulang semua kepribadian dan jati dirinya menjadi baru di dalam Kristus, hingga akhirnya ia akan mengadopsi nature Kristus itu secara utuh dan memanifestasikannya dalam kehidupan sehari-harinya.

 

Dimensi kasih dinyatakan sebagai ‘yang terbesar dari antara ketiganya’ karena bahkan ketika seseorang mengalami kehancuran iman dan sudah kehilangan pengharapan, selama hati yang mencintai Tuhan yang ia miliki dan masih ada dalam hidupnya, maka melalui persekutuan pribadi yang ia bangun ulang, ia akan kembali bisa memperbaharui dimensi iman dan pengharapan dalam kehidupannya!

 

Milikilah hati yang selalu mencintai Tuhan secara mati-matian, gila-gilaan dan habis-habisan (MGH). Pastikan kecenderungan hati yang kita miliki selalu tertuju kepada kebenaran-Nya dan hidupmu akan selalu melimpah dengan unsur-unsur ilahi: Iman, Pengharapan dan Kasih! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus