Top

04 February 2019

Hari ini Roh Kudus menegaskan kepada saya bahwa Tuhan menciptakan kita bukan hanya sebagai manusia yang menikmati duniaNya, tetapi untuk menjadi partner kerjaNya. Ketika saya merenungkan lebih lanjut mengenai keberadaan orang percaya sebagai PARTNER KERJA TUHAN, Roh Kudus membukakan pemahaman saya mengenai hal-hal berikut:

1. Tidak semua orang percaya dapat dijadikan Tuhan sebagai partner kerjaNya.

Seorang anak yang belum bertumbuh dewasa belum dapat dijadikan partner kerja oleh orangtuanya, tetapi ketika anak tersebut bertumbuh dewasa, menjadi semakin matang, semakin dewasa, semakin bertanggungjawab, iapun akan dapat ‘berfungsi’ sebagai ‘partner kerja’ bagi orang tuanya.

Saya mau pastikan saya terus alami pertumbuhan di dalam Tuhan sehingga saya bukan hanya menjadi anak yang mengasihi Bapa dan terus menerus sekedar menikmati kasihNya saja, tetapi saya juga bangkit menjadi pribadi yang semakin matang dan semakin dewasa di dalam Dia, bangkit menjadi pribadi yang dapat menjadi partner kerjaNya.

2. Orang yang Tuhan pandang sebagai partner kerjaNya pasti adalah orang yang terus membangun komunikasi yang sehat dengan Tuhan.

Bahkan dalam bisnis secara lahiriahpun, setiap orang pasti banyak berkomunikasi dengan partner kerjanya. Saya mendapati bahwa dalam aspek rohani juga berlaku hal yang sama. Partner kerja Tuhan pasti banyak berkomunikasi dengan Tuhan dan pastinya memiliki logika berpikir dan jalan pemikiran yang selaras dengan jalan berpikirnya Tuhan.

Atau, kalaupun berbeda, partner kerja Tuhan bukan orang yang keras kepala mempertahankan apa yang menjadi jalan berpikirnya. Seperti seorang anak yang sedang terus dilatih oleh orang tuanya dalam melanjutkan bisnis keluarganya, kadangkala si anak memiliki cara berpikir yang berbeda dengan si orang tua; tetapi melalui komunikasilah, sang anak belajar mengadopsi cara berpikir orang tuanya.

Sebagai anakNya, kita adalah partner kerjaNya yang selalu siap belajar untuk menyelaraskan jalan berpikir kita sesuai dengan jalan berpikirNya. Saya mau pastikan saya terus membangun komunikasi yang sehat dengan Tuhan melalui kehidupan doa dan persekutuan yang hidup yang terus saya bangun dengan Tuhan.

3. Tuhan merindukan bangkitnya orang percaya, anak-anakNya untuk menjadi partner kerjaNya yang dapat diandalkan dan dapat dipercaya.

Saya menyadari bahwa seorang pimpinan perusahaan hanya akan mempercayakan tugas-tugas besar kepada orang-orang yang ia percayai, kepada orang-orang yang menurutnya telah memahami apa yang ia inginkan, dan memiliki cara berpikir yang sama, sehingga dapat berfungsi mewakili dirinya. Saya percaya bahwa Tuhan akan mempercayakan hal-hal yang lebih besar untuk kita kerjakan ketika Ia mendapati kita telah mewarisi pikiran Kristus dalam satu takaran tertentu. Bukan karena ambisi mengejar posisi, tetapi karena sebagai anakNya, kita melihat kebutuhan untuk fungsi tersebut!

Saya menyadari bahwa inilah pentingnya kehidupan bertekun dalam pengajaran para rasul, inilah pentingnya ketekunan menggali, meneliti dan merenungkan Firman. Karena di momen kita bertekun dalam merenungkan Firmanlah, Roh Kudus menanamkan pikiran Kristus dalam pikiran kita!

Saya semakin menyadari bahwa keberadaan seorang bapa rohani juga adalah sebagai representasi Tuhan yang melatih dan memperlengkapi kita untuk dapat menjadi partner kerja Tuhan dengan menolong kita memahami cara Tuhan bekerja. Bapa rohani sebagai pribadi yang telah terlebih dahulu mewarisi pikiran Kristus, menolong kita untuk juga mewarisi pikiran Kristus! Sehingga cara kita berpikir dan cara kita bekerja terus diselaraskan dengan pikiran Kristus sendiri!

Saya juga semakin menyadari keberadaan saya adalah sebagai EKSEKUTOR dari rencana Tuhan yang ada, bukan sebagai inisiator yang ‘berhak’ menentukan cara saya mewujudkan rencana Tuhan yang ada. Menjadi partner kerja Tuhan artinya saya menangkap isi hatiNya dan mengikuti caraNya bekerja. Saya mau pastikan saya terus bertekun secara aktif dalam merenungkan Firman, saya rindu dapat menjadi partner kerja Tuhan yang sedemikian selaras dengan isi hati Tuhan dan mewarisi pikiranNya, sehingga apapun yang menjadi rancanganNya yang Ia percayakan kepada saya, dapat saya wujudkan sesuai dengan isi hatiNya!

4. Tuhan sedang membangkitkan kita yang sudah mulai berfungsi menjadi partner kerjaNya, untuk menjadi pola bagi orang-orang percaya lainnya.

Sungguh saya merasakan adanya ‘sense of responsibility‘ yang begitu besar ketika menyadari hal ini. Keberadaan saya dalam mengerjakan rencana Tuhan harus betul-betul saya bangun sesuai dengan pola kerja Tuhan, sehingga ketika mulai ada orang-orang percaya yang baru bergabung/ meleburkan diri untuk rancangan Tuhan, keberadaan saya dapat berfungsi sebagai pola dan dapat diteladani oleh mereka.

Saya menyadari bahwa adalah sangat penting bagi saya untuk mewarisi pikiran Kristus dan bekerja dengan cara yang memperkenan hatiNya, memastikan pola ilahi betul-betul terbangun dan tercetak dalam hidup saya.

Sekarang saya semakin paham relevansi antara hidup dalam ikatan janji dengan bapa rohani dengan mengerjakan apa yang menjadi rencana Tuhan. Saya semakin memahami mengapa kita harus betul-betul melangkah di jejak kaki yang sama, hidup dalam pola ilahi yang sama seperti yang telah dihidupi oleh bapa rohani.

Sebagai partner kerjaNya, saya bertanggung jawab untuk memastikan saya terus melangkah di jejak kaki yang sama yang telah ditinggalkan oleh bapa rohani saya, sehingga ketika ada orang-orang baru yang bergabung dan meleburkan diri dalam kegerakan ini, mereka akan melihat jejak kaki yang ada dengan begitu jelas (karena sudah banyak yang berjalan di jejak kaki yang sama), dan mereka hanya akan melihat SATU pola saja! Pola yang ilahi!

Saya mau pastikan saya hidup di dalam standard yang telah Tuhan tetapkan, sehingga setiap mereka yang baru bergabung tidak akan kebingungan dengan ‘variasi’ standard dan pola yang ada di dalam tubuh Kristus! #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus