Top

4 September 2019

Saya mendapati bahwa hanya orang-orang yang betul-betul mencintai Tuhan dan menganggap bahwa Firman sebagai sesuatu yang pentinglah yang akan mensetting waktu (selalu sempat) untuk bertekun dalam menggali pemahaman Firman dan membangun persekutuan dengan Tuhan. Ketika saya mensetting waktu saya untuk berfokus bertekun dalam Firman, itulah wujud dari ‘baik-baik mendengarkan suara Tuhan’, dan sesungguhnya pada saat itulah saya memposisikan diri untuk mengalami bekerjanya roh hikmat dan wahyu yang membawa saya bertumbuh dalam pemahaman Firman.

Pekerjaan Firman dan RohNya akan membawa saya menerima pemahaman Firman yang akurat. Pemahaman Firman yang akurat itulah yang harus kita set menjadi standard, sekaligus menjadi cermin bagi kita. Seperti dalam ilustrasi di Yakobus 1:23-24, saya percaya seharusnya yang terjadi adalah kita menjadikan Firman yang kita terima sebagai cermin. Ketika kita bercermin, kita akan dapat melihat keadaan kita yang sebenarnya – yang otomatis juga akan kita bandingkan sesuai dengan standard pemahaman Firman yang kita terima. Ketika kita bercermin, saat itulah kita akan dapat melihat ‘gap’ antara keadaan kita pada saat itu, dengan kondisi ideal sesuai standard Firman. Sesungguhnya momen tersebut menjadi momen penentu. Respon yang kita munculkan akan menentukan apakah kita hanya sekedar pendengar Firman, ataukah pelaku Firman, yang bertindak hati-hati sesuai dengan Firman, dan sungguh-sungguh melakukannya (Ul 28:1, Yos 1:8, Yak 1:25).

Contohnya: Kita menerima Firman dari Filipi 4:4, bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan! Senantiasa artinya selalu, tidak boleh ada alasan untuk tidak bersukacita. Dari ayat Firman ini saya mendapat pemahaman bahwa saya dapat selalu bersukacita bukan karena segala sesuatunya sesuai dengan apa yang saya harapkan, tetapi karena saya dapat melihat bahwa Tuhan ada dalam hidup saya, Ia mengontrol segala sesuatu dan Ia memiliki rancangan yang indah melalui segala sesuatu yang saya hadapi. Itulah sebabnya perintahnya adalah untuk bersukacita di dalam Tuhan. Tuhanlah alasan mengapa saya dapat senantiasa bersukacita meskipun sedang ada di lembah kekelaman. Selama realitaNya selalu nyata di dalam kehidupan saya, saya tidak punya alasan untuk tidak bersukacita! Karena Dialah yang menjadi sukacita saya!

Setelah mendapat pemahaman Firman ini, saya gunakan Firman ini sebagai standard hidup saya, sekaligus saya gunakan untuk bercermin atau mengevaluasi diri saya. Di momen itu, Roh Kudus bekerja, mengingatkan saya akan momen-momen tertentu dalam hidup saya di mana saya tidak bersukacita di dalam Tuhan. Misalkan ketika saya menjadi kecewa, sedih dan kehilangan semangat. Itulah ‘gap’ antara keadaan saya yang sebenarnya pada saat itu dengan standard Firman.

Itulah momen penentu, apakah saya akan mengabaikannya dengan memberi alasan untuk membenarkan reaksi yang saya munculkan saat itu (sekedar menjadi pendengar Firman yang menipu diri sendiri), ataukah saya akan responi dengan respon pertobatan dan mulai menjadikan standard Firman untuk mengubah dasar keyakinan saya dan konsep berpikir saya. Dengan cara melihat masalah tersebut dari sudut pandang Tuhan, dan mengajarkan pikiran dan perasaan saya untuk tetap dapat bersukacita ketika ditegur, karena ketika saya ditegur, sesungguhnya saya sedang diberi kesempatan untuk alami kemajuan, menjadi lebih baik dari sebelumnya, dan dibentuk menjadi semakin indah di mata Tuhan (menjadi pelaku Firman).

Saya percaya, ketika setiap kita terus bertekun menjadi pelaku Firman, setiap langkah ketaatan kita untuk menyelaraskan diri dengan Firman dan melakukan FirmanNya adalah wujud dari diri kita bekerja sama dengan Tuhan untuk menanggulangi berbagai celah yang masih ada di dalam kehidupan kita. Karena Tuhan akan mengangkat kita tinggi di antara segala bangsa, menjadikan kita sebagai orang yang berpengaruh, terpandang dan disegani. Ia sedang menutup setiap celah yang masih menjadi pijakan untuk musuh masuk dalam kehidupan kita dan menjatuhkan kita.

Hati saya begitu berkobar-kobar karena saya dapat merasakan dimensi kasihNya yang membawa saya memahami bahwa setiap instruksi dalam FirmanNya adalah wujud dari perlindunganNya atas hidup kita, Ia mempersiapkan kita agar ketika kita diangkat di posisi yang tinggi nanti, musuh tidak akan dapat ‘menjatuhkan’ kita, karena FirmanNya membuat kita menjadi pribadi yang benar dan berotoritas!

Tuhan, saat ini aku berdoa, aku mau menjadi pelaku Firman-Mu. Aku tidak mau membohongi diriku sendiri. Aku bukan hanya ingin menjadi pribadi yang memahami FirmanMu, dan mengenal isi hatiMu saja; tetapi menyelaraskan hidup sesuai dengan Firman-Mu, sesuai dengan standard-Mu, itulah yang menjadi kerinduanku! Aku rindu menjadi pribadi yang mengenal isi hatiMu dan hidup menyukakan hatiMu! Saat ini aku kobarkan kembali hati yang mencintai Tuhan, aku kobarkan kembali kerajinan, ketekunan dan kesungguhan dalam merenungkan sampai mengaplikasikan Firman. Aku percaya, Roh Kudus akan senantiasa menolong aku, melatih aku, untuk menjadi pelaku Firman! Amin! #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus