Top

5 Desember 2019

Message ini adalah kelanjutan dari message kemarin.

 

2. Karena sudah terlalu lama dikondisikan oleh Musuh menjadi ‘orang-orang yang buta dan tuli rohani’, seringkali kita butuh dituntun atau ditolong untuk kembali bisa berinteraksi – melihat dan mendengar Tuhan secara pribadi.

 

1 Samuel 3:1-4, 7-10 (TB)
Samuel yang muda itu menjadi pelayan TUHAN di bawah pengawasan Eli. Pada masa itu firman TUHAN jarang; penglihatan-penglihatan pun tidak sering.
Pada suatu hari Eli, yang matanya mulai kabur dan tidak dapat melihat dengan baik, sedang berbaring di tempat tidurnya.
Lampu rumah Allah belum lagi padam. Samuel telah tidur di dalam bait suci TUHAN, tempat tabut Allah.
Lalu TUHAN memanggil: “Samuel! Samuel!”, dan ia menjawab: “Ya, bapa.”
Samuel belum mengenal TUHAN; firman TUHAN belum pernah dinyatakan kepadanya.
Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi, untuk ketiga kalinya. Ia pun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta katanya: “Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?” Lalu mengertilah Eli, bahwa TUHANlah yang memanggil anak itu.
Sebab itu berkatalah Eli kepada Samuel: “Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar.” Maka pergilah Samuel dan tidurlah ia di tempat tidurnya.
Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: “Samuel! Samuel!” Dan Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.”

 

Samuel kecil hidup di dalam suatu masa di mana para pemimpin yang seharusnya menjadi penyambung lidah Tuhan bagi umat-Nya sudah lama sekali tidak pernah menerima pesan-pesan Tuhan. Samuel sendiri sama sekali tidak pernah tahu bahwa Tuhan bisa berbicara atau berinteraksi secara langsung kepada umat-Nya! Tapi Samuel memiliki hati seorang hamba yang memang memiliki kehausan-kelaparan akan realita Tuhan: Samuel menyelinap masuk ke dalam ruang maha kudus, tempat tabut Tuhan biasanya disimpan.

 

Kata menjadi ‘PELAYAN TUHAN’ ditulis dengan kata Ibrani: Shà‚rath, yang dapat diartikan: Hadir sebagai seorang penyembah, menjadi seorang hamba, menanti-nantikan perintah.

 

Inilah sikap hati yang harus kita bangun dalam kehidupan kita sebelum Tuhan mulai membangun interaksi dengan diri kita.

 

Ketika Tuhan mulai membawa kita berinteraksi dengan Diri-Nya, biasanya Ia akan memakai hal-hal berikut:

 

1) Suara hati nurani,

 

2) Suatu impresi atau perasaan rohani,

 

3) Lewat ayat Alkitab yang tiba-tiba teringat,

 

4) Ada suatu kata atau kalimat yang secara spesifik terus berbicara kuat dalam batin kita,

 

5) Adanya suatu ‘penggalan peristiwa’ yang terus muncul dalam pikiran atau ingatan kita,

 

6) Melalui suatu mimpi,

 

7) Melalui penglihatan rohani,

 

8) Melalui suatu nubuatan,

 

9) Melalui fungsi knowing,

 

10) Melalui peristiwa supernatural yang tidak lazim – kita mendengar suara Tuhan secara audible, mengalami kunjungan malaikat, roh kita dibawa ke alam roh dan lain-lain.

 

Belajarlah untuk memberikan respon yang sepatutnya karena semua hal di atas menunjukkan bahwa Tuhan sedang mau berinteksi dengan diri kita. #AkuCintaTuhan

 

Message ini masih akan berlanjut besok.

 

Ps. Steven Agustinus