Top

5 Juni 2020

Ada cukup banyak orang percaya yang menjalani kehidupan yang penuh konflik batin. Mereka menyiksa dirinya sendiri dengan berbagai pemikiran – pemikiran buruk dan perasaan – perasaan negatif. Alhasil mereka tidak bisa menikmati hidup dalam damai sejahtera dan sukacita. Ada saja alasan untuk jadi kecewa, marah, dan dendam pada orang lain. Seolah hidup mereka sudah paling sempurna dan orang lain yang penuh dengan cacat cela. Padahal kesempurnaan itu hanya bisa kita dapatkan bukan saat melihat kekurangan orang lain, melainkan pada saat kita mengampuni dan melupakan!

 

Yesus mengajarkan kita berdoa: “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” (Matius 6:10). Kita tahu bersama bahwa Kerajaan Surga bukan berbicara soal makan dan minum, melainkan soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Artinya Ia menghendaki untuk kita bisa menikmati kehidupan di bumi seperti di surga. Di luar itu bukanlah kehendak Tuhan.

 

Tapi masalahnya kehidupan seperti itu belum tergenapi dikarenakan kita masih menganggap bahwa faktor eksternallah yang menentukan. Jadi kita BERPIKIR atau BERDOA (Efesus 3:20 – Ingat, pikiran juga adalah doa) – segala sesuatu yang di luar seperti situasi, keadaan, dan orang harus baik terlebih dahulu barulah kita bisa hidup dalam damai sejahtera dan sukacita. Padahal itu pemikiran atau doa yang salah, bukan seperti itu yang Tuhan kehendaki.

 

Ia mau kita berdoa atau berpikir seperti ini: “Saudara sekalian yang saya kasihi, pada akhir surat ini saya ingin mengatakan satu hal lagi. Arahkanlah pikiran Saudara kepada hal-hal yang benar, yang baik, dan yang adil. Renungkanlah hal-hal yang murni dan indah, serta kebaikan dan keindahan di dalam diri orang lain. Ingatlah akan hal-hal yang menyebabkan Saudara memuji Allah dan bersukacita” – Filipi 4:8 (FAYH).

 

Jadi jika kita menginginkan kehidupan yang penuh damai sejahtera dan sukacita, maka begitulah caranya kita harus berpikir atau berdoa! Kita harus setting pikiran kita untuk hanya merenungkan hal-hal yang murni dan indah, yaitu firman Allah dan persekutuan dengan pribadi-Nya (Amsal 30:5, Mazmur 135:3). Juga mendisiplin pikiran kita untuk merenungkan kebaikan dan keindahan di dalam diri orang lain. Pokoknya pikiran kita harus dikondisikan untuk memikirkan sesuatu yang membuat kita bersukacita. Jadi dengan demikian kita akan senantiasa terkoneksi dengan Roh Kudus sebagai sumber dari sukacita itu sendiri.

 

Saya sangat yakin, kehidupan di bumi seperti di surga itu bukanlah suatu angan – angan atau wacana belaka, melainkan suatu realita. Dan setiap kita sebagai orang percaya, berhak menikmatinya. Itulah kehidupan sehari – hari yang seharusnya kita alami. Jika Roh Kudus yang adalah pribadi Tuhan sendiri diberikan atas kita, maka artinya SORGA ada bersama dengan kita. Sebab di mana ada Tuhan, di situlah SORGA berada.

 

Bagian kita adalah mengarahkan hati dan pikiran kita untuk merenungkan Filipi 4:8! Seketika kita akan menikmati sorga di atas bumi ini; suatu kehidupan yang penuh dengan KEBENARAN, DAMAI SEJAHTERA, DAN SUKACITA. #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus