Top

6 April 2020

Amsal 20:12 (TB)  Telinga yang mendengar dan mata yang melihat, kedua-duanya dibuat oleh TUHAN.

 

Yohanes 10:14 (TB)  Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku

 

Dari dua bagian ayat di atas saja, saya sudah cukup meyakini bahwa sudah sewajarnya untuk umat Tuhan – khususnya kaum Ciptaan Baru – memiliki kemampuan untuk bersekutu dengan Tuhan, mendengar suara Tuhan!

 

Melalui pekerjaan firman dan Roh yang terjadi dalam hidup mereka, otomatis akan ada suatu ‘sense of spirituality‘ yang mulai mereka miliki – terbangun suatu frekuensi rohani yang membuat seseorang jadi memiliki kesadaran akan hal-hal rohani atau Ilahi sehingga memudahkan dirinya untuk mengenali datangnya suara Tuhan. Sama seperti anak bayi yang baru dilahirkan, selama anak yang bersangkutan terlahir secara normal, maka adalah sesuatu yang normal juga untuk sang bayi bisa berkomunikasi dengan lingkungannya!

 

Demikian pula saat seseorang mengalami kelahiran baru; ia dilahirkan oleh Roh Kudus ke dalam suatu ‘lingkungan yang baru’ – realita hadirat-Nya, lingkungan kerajaan-Nya! Maka sudah sewajarnya untuk sang Ciptaan Baru akan dapat berinteraksi dengan berbagai makhluk sorgawi – khususnya dengan sang Bapa!

 

Alasan mengapa ada banyak orang percaya hingga sekarang terus mengeluh dan menyatakan bahwa mereka merasa mengalami kesulitan untuk mendengar suara Tuhan, disebabkan karena:

 

1. Mereka belum mengenal Tuhan dan firman-Nya.

 

Ketika pertama kali Tuhan berusaha untuk berkomunikasi dengan Samuel, Samuel mengira pribadi yang memanggil dirinya adalah imam Eli. Samuel belum mengenal Tuhan (1 Samuel 3:7). Meskipun imam Eli sudah lama hidup dalam kedagingan atau hidup dalam ketidakakuratan, tapi dia menjadi imam besar bukan tanpa alasan. Pasti dia pernah memiliki kehidupan rohani yang membuat dirinya diangkat menjadi seorang imam besar. Hanya saja mungkin posisi atau keistimewaan sebagai seorang imam besar sudah merusak hidupnya. Tapi bagaimanapun, dia pasti pernah memiliki kedekatan dengan Tuhan. Jadi, melalui arahan imam Eli, Samuel belajar mengenal Tuhan dan firman-Nya (1 Samuel 3:1-9).

 

2. Mereka memiliki pikiran dan emosi yang masih membawa pola dunia ini.

 

Seringkali umat Tuhan memiliki konsep pikir atau sudut pandang yang bersumber dari pola dunia ini sehingga hal itu menyulitkan diri mereka untuk memiliki persekutuan yang hidup dan sehat dengan Bapa. Kesulitan mereka dalam hal mendengar suara Tuhan, karena selama ini mereka terus mencari atau menunggu untuk terjadinya suatu pengalaman rohani yang spektakuler, karena itulah pola pemahaman yang ‘ditawarkan’ oleh dunia ini. Sehingga saat Tuhan berkata-kata dengan menggunakan suara hati nurani  atau mempergunakan suatu pemikiran yang melintas dalam pikiran kita, hal tersebut hanya dianggap sebagai ‘angin lalu’ saja!

 

Padahal ketika Tuhan berbicara dan Dia ‘hanya’ mempergunakan suara hati nurani untuk berkomunikasi dengan umat-Nya, suara hati nurani tersebut memiliki bobot yang sama seperti saat Ia berbicara dengan memakai guntur dan halilintar. Memang efek pengaruh psikologisnya (bagi orang yang bersangkutan) pasti berbeda, tapi bobot otoritas dan respon ketaatan yang butuhkan tetaplah sama! Di sisi yang lain, Dia adalah Allah yang berdaulat. Siapa kita mau mengatur dan menentukan bahwa jika Tuhan menghendaki firman-Nya ditaati, maka Dia harus berbicara dengan cara yang spektakuler, atau kita tidak akan mentaatinya.

 

Saat Tuhan memberi firman-Nya (dengan cara yang sangat lembut dan bersifat pribadi) menggunakan suara hati nurani kita yang sudah dibaharui oleh darah Kristus, ataupun dengan cara-cara yang spektakuler, semuanya membutuhkan respon ketaatan mutlak dari diri kita!

 

3. Mereka memiliki pikiran dan emosi yang masih ter-distract oleh berbagai situasi atau keadaan hidup sehari-hari.

 

Alkitab menegaskan: Hanya orang yang suci hatinya yang akan dapat melihat Tuhan (Matius 5:8). Selama mata dan telinga hati kita terus ter-distract oleh berbagai hal yang lahiriah, manusiawi, apalagi kedagingan, otomatis kemampuan kita untuk mendengar atau berkomunikasi dengan Tuhan jadi terganggu! Apalagi jika kita masih terus menyimpan ganjalan, sakit hati atau kekecewaan terhadap seseorang, jelas hal tersebut akan menjadi ‘tembok penghalang’ yang menghalangi kita memiliki persekutuan yang hidup dan sehat dengan Bapa!

 

Matius 6:12 (TB)  dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;

 

Jadi kalau kita menyimpan ganjalan terhadap orang lain, ganjalan itulah yang menyebabkan terganggunya hubungan kita dengan Bapa. Jikalau kita berkata: “Baiklah, aku mengampuni kesalahannya tapi aku hanya belum mau bertegur-sapa dengan dirinya“. Tanpa kita sadari, kita sedang mengkondisikan Tuhan juga akan berlaku yang sama kepada kita: “Baiklah Aku mengampuni kesalahanmu tapi Aku hanya belum mau berbicara dulu dengan dirimu“.

 

Inilah salah satu alasan mengapa umat Tuhan mengalami kesulitan untuk mendengar suara Tuhan. Mata dan telinga hati mereka masih berfokus pada masalah atau luka hati atau ganjalan yang mereka rasakan. Seandainya setiap umat Tuhan bertekad untuk selalu mau mengampuni dan melupakan kesalahan orang – saya yakin, Roh Kudus akan memampukan mereka dan saya percaya bahwa semua umat Tuhan akan memiliki dimensi persekutuan yang hidup dan sehat dengan Bapa.

 

Sepatah kata firman yang Tuhan ucapkan, sudah cukup untuk memastikan kehidupan sehari-hari kita jadi selalu berkemenangan. Kita menikmati pengalaman ‘anggur yang terbaik’ karena kita selalu mentaati setiap firman atau arahan yang Tuhan berikan.! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus