Top

6 Desember 2019

Message ini adalah kelanjutan dari message kemarin

 

3. Kepekaan dalam melihat-mendengar Tuhan dan keakuratan dalam memberikan respon pada suara Tuhan sangat dipengaruhi oleh kondisi atau sikap hati kita

 

Itu sebabnya, belajarlah dari sikap hati yang Samuel miliki. Meski ia lahir pada masa di mana jarang ada suara Tuhan, tidak sering ada penglihatan – dan hal tersebut disebabkan karena keberadaan imam Eli sebagai pemimpin yang hidup tidak akurat sehingga dirinyalah yang menjadi ‘penghambat’ untuk datangnya suara Tuhan atas umat – tapi secara pribadi Tuhan sendiri mengunjungi Samuel untuk membangun interaksi dengan Diri-Nya!

 

a. Imam Eli menjadi pemimpin yang gagal hidup dalam komunikasi atau interaksi yang intens dengan Tuhan karena gaya hidup keduniawian yang ia jalani

 

1 Samuel 2:29 (TB)  Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel?

 

Gaya hidup yang fasik atau duniawi di hadapan Tuhan telah membuat Imam Eli jadi ‘buta dan bisu’ rohani. Bahkan ia sendiri gagal meresponi secara akurat suara Tuhan, nubuatan, teguran dan peringatan yang datang dalam hidupnya (1 Sam 3:15-18)

 

b. Samuel memiliki sikap hati yang berbeda!

 

Sedari kecil, ibunya sudah menanamkan tujuan hidup kepada Samuel. Hana selalu mengingatkan Samuel bahwa dirinya dilahirkan sebagai hasil dari doa dan sebagai ibu, ia sudah mendedikasikan hidup Samuel untuk melayani Tuhan!

 

1 Samuel 2:11, 18-19, 26 (TB)

Lalu pulanglah Elkana ke Rama tetapi anak itu menjadi pelayan TUHAN di bawah pengawasan imam Eli.

Adapun Samuel menjadi pelayan di hadapan TUHAN; ia masih anak-anak, yang tubuhnya berlilitkan baju efod dari kain lenan. Setiap tahun ibunya membuatkan dia jubah kecil dan membawa jubah itu kepadanya, apabila ia bersama-sama suaminya pergi mempersembahkan korban sembelihan tahunan.

Tetapi Samuel yang muda itu, semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia.

 

Itu sebabnya meski Samuel masih kecil, tapi ia sudah memiliki kerinduan hati untuk selalu melayani Tuhan. Samuel yang muda itu menjadi pelayan Tuhan di bawah pengawasan imam Eli (1 Sam 3:1)

 

Kata ‘menjadi pelayan Tuhan’ ditulis dengan kata Ibrani: Shârath, yang dapat diartikan: Hadir sebagai seorang penyembah, menjadi seorang hamba, menanti-nantikan perintah.

 

Dari kata Shârath, saya mendapatkan pemahaman tentang sikap hati yang seharusnya kita bangun dalam hidup kita karena inilah yang menentukan seberapa akurat kita akan meresponi suara Tuhan yang datang dalam hidup kita!

 

(a) Membangun sebuah sikap hati seorang penyembah – Yoh 4:21-24

 

Para penyembah adalah orang-orang yang pasti memiliki kelembutan hati. Hidupnya terus digerakkan oleh roh cinta akan Tuhan. Dan itu semua akan mengkondisikan dirinya terus mengalami limpahan hadirat Tuhan yang menjadi ‘tanda meterai’ bahwa Tuhan memang berkenan atas hidupnya!

 

(b) Bersedia untuk menunggu dengan penuh perhatian atau ketertarikan untuk mendengarkan apa pun yang ingin Ia sampaikan

 

Sikap hati ini hanya akan dimiliki oleh orang-orang yang memang mendedikasikan hidup hanya untuk Dia, menyadari bahwa hidupnya ada hanya untuk mengerjakan apa pun yang Ia perintahkan dan untuk menyukakan hati Tuhan.

 

(c) Memiliki kesediaan, fokus untuk menyimpan setiap perintah atau ketetapan yang Tuhan berikan

 

Saat seseorang bersekutu dengan Tuhan, akan selalu ada komunikasi yang progresif dan keprogresifan tersebut selalu disebabkan karena kita ‘menyimpan’ apa yang sudah pernah Tuhan sampaikan kepada kita.

 

Miliki sikap hati di atas, responi apa pun yang Tuhan sampaikan secara akurat dan mulailah perjalanan hidup yang Ilahi dengan realita Tuhan. Jadilah sahabat Tuhan – orang-orang yang hidup bersekutu dengan Tuhan. Generasi Henokh sedang kembali dimunculkan di jaman ini! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus