Top

6 Maret 2020

Sebagai orang percaya tanpa sadar kecenderungan hati kita tertuju hanya kepada berkat dan janji Tuhan, bukan kepada pribadi Tuhan. Jadi seolah – olah tanpa ‘berkat’ dan janji Tuhan tergenapi dalam diri kita, hidup kita tidak merepresentasikan diri sebagai orang percaya! Opini yang terbangun dalam pikiran tersebut membuat kita akhirnya mudah terdesak oleh apa kata orang, situasi, dan keadaan. Sehingga mau tidak mau kita mengejar berkat dan penggenapan janji itu dengan kekuatan kita sendiri, lalu kita meraihnya dan segera melakukan ‘klaim’ bahwa Tuhan telah memberkati dan menggenapi janji-Nya kepada kita. Semuanya itu kita lakukan demi ‘mendapatkan pengakuan’ dari orang lain. Dan tanpa sadar kembali hati kita menjadi menyimpang jauh dari kehidupan yang memperkenan hati Tuhan.

 

Padahal jelas sekali firman Tuhan berkata: Bahwa yang terutama itu bukan berkat dan janji Tuhan, melainkan kasih akan Tuhan (mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan) – itulah yang terutama yakni kecenderungan hati yang hanya tertuju kepada pribadi Tuhan, yang lainnya hanya bonus yang mengikuti (Ulangan 6).

 

Dan hal yang juga sangat penting dan utama untuk kita perhatikan adalah: ‘Mendengarkan suara Tuhan’. Itulah wujud aplikatif dari orang yang mengasihi Tuhan; mendengar firman-Nya (memikirkan hal yang dari Roh) dan mentaati-Nya! Selebihnya hanya bonus (Ulangan 28).

 

Jadi sebenarnya kehidupan iman kita itu tidak ‘ribet dan kompleks’ atau berlika liku! Tidak! Sebab pada prinsipnya hanya dua hal itulah yang Tuhan kehendaki dari hidup kita. Jika sampai ‘kompleks’, itu hanya menunjukkan hati kita yang berlika – liku ; tertuju kepada berkat dan janji, bukan pada pribadi Tuhan.

 

Lalu apakah kita tidak butuh penggenapan janji Tuhan? ataukah kita tidak butuh berkat Tuhan? Memang tidak! Sebab yang kita butuhkan hanyalah keberadaan-Nya. Dia yang terutama dan utama. Saat Tuhan nyata dalam hidup kita dan realita-Nya memenuhi batin kita, maka pada saat itulah kita tidak lagi butuh yang lain. Sebab di dalam kepenuhan realita-Nya, kita dipuaskan! Kondisi hati inilah yang akan memposisikan kita menjadi orang yang diberkati, sudah diberkati, sehingga menjadi berkat dan membawa dampak bagi kehidupan banyak orang.

 

Pertanyaannya, bagaimana dengan kebutuhan lahiriah kita? Seperti uang, rumah, makan, dan lain-lain. Semua itu dibutuhkan oleh bangsa – bangsa di seluruh dunia yang bekerja untuk pemenuhan kebutuhan hidup! Apakah kita tidak membutuhkan itu semua?

 

Matius 6:32-33 (BIMK) Hal-hal itu selalu dikejar oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Padahal Bapamu yang di surga tahu bahwa kalian memerlukan semuanya itu.
Jadi, usahakanlah dahulu supaya Allah memerintah atas hidupmu dan lakukanlah kehendak-Nya. Maka semua yang lain akan diberikan Allah juga kepadamu.

 

Jika kita sebagai orang percaya masih terus bergumul akan penggenapan janji dan pencarian berkat, maka sesungguhnya Tuhan belum memerintah, berkuasa, dan memenuhi batin kita. Fokus kita tidak tertuju kepada pribadi-Nya! Kita ditipu oleh dunia ini untuk beroleh hal yang bukan terutama. Sebab pada prinsipnya, jika kita mengejar Tuhan atau berfokus pada Tuhan dan mengejar realita-Nya, maka kita telah beroleh segalanya.

 

Yang membedakan kita dengan orang lain bukanlah berkat atau penggenapan janji, melainkan realita penyertaan Tuhan. Sebab orang yang tegar tengkuk dan keras kepala saja bisa menikmati berkat, bahkan bisa menerima penggenapan janji. Tapi mereka kehilangan realita Tuhan, itulah yang dialami oleh Israel! Di padang gurun mereka dipelihara oleh Tuhan walau mereka memberontak selama 40 tahun. Masakan kita yang mau berfokus pada pribadi Tuhan justru dibiarkan atau tidak dipelihara oleh Tuhan? Tidak mungkin! Dia pasti memelihara hidup kita. Bagian kita hanyalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati jiwa dan kekuatan. Dan menjaga hati untuk tidak teralihkan fokus dari realita-Nya. Belajarlah seperti Musa!

 

Keluaran 33:15-16 (TB) Berkatalah Musa kepada-Nya: “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini. Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?”

 

Sehebat apa pun janji Tuhan pada kita, dan sebesar apa pun berkat yang Tuhan janjikan atau berikan, semuanya itu tidak boleh membuat kita menjadi salah fokus. Fokus kita tetap kepada Tuhan, sumber janji dan berkat. Hati kita tetap lurus; menganggap Tuhan adalah segalanya bagi kita. Sehingga kita tidak akan rela kehilangan kesadaran akan realita Tuhan. Sebab realita-Nyalah yang sangat berharga melebihi apa pun juga. Pribadi-Nya segalanya bagi kita (mencintai Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan).

 

Dari perenungan ini Roh Kudus mendorong saya untuk senantiasa membangun kesadaran akan realita hadirat Tuhan. Setiap saat, setiap waktu, tidak boleh terlepaskan dari hadirat-Nya! Tuhan harus menjadi segalanya dalam hidup saya, bukan yang lain! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus

 

Bagi saudara pengguna Instagram, ikuti akun IG terbaru Ps. Steven Agustinus di @psstevenpersonal
Gbu