Top

7 Maret 2020

 

Dalam kedaulatan-Nya, Tuhan bisa memakai siapa saja untuk melakukan hal-hal yang besar. Ia bisa melakukannya kapan pun dan di mana pun. Tapi bukan itu yang menjadi konsentrasi Tuhan. Melainkan Ia menghendaki kehidupan kita menjadi ilahi dan merepresentasikan Kerajaan-Nya di atas muka bumi ini. Dengan satu tujuan agar hidup kita menjadi pola atau contoh ilahi (kebenaran) dan memancarkan damai sejahtera serta sukacita abadi. Sebab hal inilah yang akan memainkan peranan penting untuk terjadinya pemulihan segala sesuatu di akhir zaman ini (Wahyu 21).

 

Selama ini kita membaca dalam Alkitab bahwa murid – murid Tuhan Yesus juga dipakai untuk melakukan perkara – perkara besar. Mereka juga menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan-setan. Tapi mereka masih sibuk bertengkar memperebutkan kursi jabatan di kerajaan yang mereka harapkan, dan berselisih meraih pengakuan untuk menjadi yang terbesar di antara mereka. Bahkan ada yang menjual Yesus demi ambisi atau rancangan pribadinya, dan juga ada yang tidak mengakui Yesus demi terlewatkan dari aniaya yang sama. Dan hampir semua murid mengalami kegoncangan dan kehilangan iman ketika Yesus mati di kayu salib.

 

Tidak hanya itu, di perjanjian lama kita juga bisa menemukan ada banyak tokoh – tokoh Iman yang dipakai Tuhan dengan luar biasa, namun masih terus melakukan ketidakuratan. Dari memiliki istri banyak, keluarga yang berantakan, merebut istri orang, membunuh, dll. Pendek kata mereka tidak melakukan kebenaran secara akurat, dan tidak ada damai sejahtera maupun sukacita abadi dalam kehidupan mereka. Jadi pada prinsipnya bukan ‘dipakai atau tidaknya oleh Tuhan’, melainkan apakah kita telah merepresentasikan Kerajaan Allah seutuhnya di atas muka bumi ini.

 

Roma 14:17-18 (TB) Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia.

 

Oleh sebab itu, fokus perhatian kita harus mengalami perubahan. Berhentilah ‘mempersiapkan diri untuk dipakai oleh Tuhan secara luar biasa’, sebab Tuhan tidak butuh persiapan kita untuk dipakai oleh-Nya. Kapan pun dan di mana pun oleh kedaulatan-Nya, Ia bisa memakai kita. Tapi yang harus menjadi fokus perhatian kita adalah mengalami pembaharuan akal budi seturut dengan kebenaran (dalam dasar keyakinan, sikap hati, dan gaya hidup) dan memastikan setiap hari kita dilingkupi oleh damai sejahtera dan sukacita abadi (aliran air hidup terpancar dengan deras). Itulah kehidupan yang memperkenan hati Tuhan.

 

Untuk menjalani kehidupan yang memperkenan hati Tuhan, kita membutuhkan Roh Kudus – Dialah yang akan menuntun kita berjalan dalam Kebenaran. Roh Kudus yang ada dalam batin kita akan memberikan dorongan – dorongan tertentu untuk hidup kita menjadi ilahi. Seperti berdoa, membaca firman, deklarasi, dan arahan – arahan lainnya untuk kita melakukan sesuatu. Bagian kita adalah menaati Roh Kudus. Semakin sering kita menaati Roh Kudus, maka semakin ilahi kehidupan kita. Sebab Roh Kudus akan membuat kita dicetak oleh kebenaran dan senantiasa memancarkan damai sejahtera dan sukacita ilahi dalam hidup sehari – hari. Sehingga Roh dapat memposisikan kita di tengah manusia sebagai representasi Kristus dan Kerajaan Surga di atas muka bumi ini.

 

Melalui kehidupan kita segala bentuk maut yang membuat orang takut, khawatir, cemas, dan berduka akan ditelan oleh kehidupan ilahi yang mengalir dari dalam batin kita (Wahyu 21). Hidup kita akan menjadi KEMAH PERTEMUAN ANTARA MANUSIA DENGAN TUHAN. Mereka akan sujud dan menyembah Tuhan yang kita sembah! Kerajaan Surga akan nyata lewat kehidupan kita! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus

 

Bagi saudara pengguna Instagram, ikuti akun IG terbaru Ps. Steven Agustinus di @psstevenpersonal
Gbu