Top

8 April 2021

Dalam Kerajaan dan sistem surgawi, anugerah adalah satu-satunya ‘mata uang’ (currency) yang dikenali dan sanggup menggerakkan segala sesuatu. Namun di alam lahiriah dan sistem dunia, uang adalah currency dan penguasa yang dapat ‘menggerakkan segala sesuatu’.

1. Tuhan menghendaki untuk kita dapat terus bertumbuh serta ‘diperkaya’ dalam anugerah-Nya. Dan pada saat yang sama tahu bagaimana memanfaatkan kekuatan uang untuk memastikan semua rencana dan agenda Tuhan di alam lahiriah ini dapat terwujud secara sempurna.

a. Saat kita bertumbuh dan diperkaya dalam anugerah, maka dengan mudah kita ‘menciptakan’ sumber-sumber keuangan kita.

Meski seseorang memiliki uang yang berlimpah, ia tidak akan pernah bisa ‘membeli’ anugerah untuk bekerja dalam hidupnya.

b. Akan selalu ada kondisi dan orang-orang tertentu yang ‘menuntut kita’ untuk mengeluarkan sejumlah uang sebelum mereka melakukan sesuatu untuk kita – padahal seharusnya hal itu sudah menjadi tugas mereka.

Daripada kita terus mengikuti keinginan mereka untuk memberi sejumlah uang, hingga akhirnya membuat hati nurani kita jadi terganggu, sebaiknya, kita ‘manfaatkan kekuasaan uang yang sanggup untuk menggerakkan segala sesuatu’ tersebut.

Dalam hal ini, kita bisa mulai bangun suatu hubungan dengan komunitas atau orang-orang tertentu yang memang di kemudian hari akan dapat kita ‘manfaatkan’ untuk ‘membantu’ mengerjakan kehendak Tuhan. Memang seringkali akan ada ‘biaya’ yang harus kita keluarkan (Lukas 16:9) dalam membangun hubungan ini, tapi pengeluaran biaya tersebut tidak boleh sampai mengganggu hati nurani kita.

Dalam hal ini betul-betul dibutuhkan hikmat dan kematangan rohani. Sebab tanpa kedua aspek tersebut, adalah mudah untuk seseorang jadi ‘tergelincir’ dan mulai bergantung pada ‘kekuasaan uang’ – tidak lagi mengandalkan campur tangan Tuhan.

c. Dalam usaha kita menyelesaikan kehendak Tuhan di bumi ini, kita akan terus berinteraksi dengan sistem dunia yang ada – artinya kita juga akan terus berinteraksi dengan uang.

Misalnya dalam usaha kita membangun gedung gereja, kita tidak akan mendapati Tuhan mengutus para malaikat-Nya untuk mendirikan gedung gereja seperti yang kita butuhkan. Entah Tuhan memberi kita uang melalui seseorang atau secara mukjizat kita mendapatkan uang yang kita perlukan, namun tetap saja dibutuhkan sejumlah uang untuk membangun gedung gereja tersebut.

Karena itu dibutuhkan suatu sikap hati tertentu untuk kita mulai berinteraksi dengan uang dan memanfaatkannya bagi kepentingan Kerajaan Surga – tanpa kita jadi memiliki ketergantungan terhadap uang (Mamon).

2. Seringkali anak-anak dunia ini ‘lebih tajam’ dalam melihat suatu peluang, tahu memanfaatkan sikap hati orang-orang tertentu yang masih dikuasai oleh keserakahan atau cinta akan uang (Lukas 16:1-9).

a) Sebelum anak-anak terang berinteraksi dan mencoba memanfaatkan kekuatan Mamon, maka terlebih dahulu mereka harus memastikan dalam diri mereka sudah terbangun nilai-nilai Kerajaan Sorga tentang uang, kekayaan dan kelimpahan.

b) Seseorang yang dalam hidupnya masih terus bergumul dengan keinginan untuk hidup mewah atau nyaman, sesungguhnya masih ada benih keserakahan yang belum tertanggulangi dalam hidupnya.

Bagi orang yang masih menyimpan benih keserahan atau ketamakan, jika ia berusaha untuk ‘memanfaatkan’ Mamon, ia sama saja seperti seseorang yang berenang di laut lepas dengan ada luka sayat atau darah mengalir dari tubuhnya. Hal tersebut hanya akan mengundang datangnya rombongan hiu untuk mendekatinya.

Sebelum kita mulai berinteraksi dengan ‘penguasa dan penggerak sistem dunia ini’, pastikan tidak ada lagi keserakahan, ketamakan atau cinta akan uang dalam hidup kita. #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus