Top

8 Mei 2020

Roma 8:26-28 (TB) Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. KITA TAHU SEKARANG, BAHWA ALLAH TURUT BEKERJA DALAM SEGALA SESUATU UNTUK MENDATANGKAN KEBAIKAN BAGI MEREKA YANG MENGASIHI DIA, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

 

Saya tetap meyakini bekerjanya kuasa doa – ketika seseorang berdoa dalam bahasa roh, Alkitab menyatakan bahwa Roh Kudus membantu kita, berdoa untuk kita kepada Allah (dan di waktu yang lain, Roh Kudus membawa kita untuk berdoa bagi orang-orang Kudus). Dan bekerjanya kuasa doa membuat Allah bertindak dalam kedaulatan-Nya untuk mengkondisikan situasi, keadaan, termasuk ikut menggerakkan orang-orang tertentu – pendek kata segala sesuatu yang memiliki keterkaitan dengan realisasi penggenapan dari jawaban doa yang kita doakan untuk secara sinergis bekerja sama – tidak peduli kita mampu melihatnya ataupun tidak!

 

Hingga sekarang, Dia masih tetap Allah yang selalu menjawab doa! Itu sebabnya, jangan pernah merasa lelah untuk terus berdoa, teruslah memiliki pengharapan dan keyakinan bahwa doa-doa kita tidak pernah menjadi sia-sia! Meski kelihatannya, doa-doa kita tersebut masih jauh dari realiasasi dijawab oleh Tuhan!

 

Untuk menegaskan tentang pentingnya kegigihan dalam berdoa, Yesus pernah memberikan satu perumpamaan tentang seorang janda yang meminta kepada seorang hakim untuk membela perkaranya (Lukas 18:1-8). Dalam penutup atas perumpamaan yang Ia sampaikan, Yesus menegaskan: Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Lukas 18:7-8).

 

Dari kisah perumpamaan di atas, kita belajar untuk terus bertekun dalam doa (selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu) dan tidak terjebak untuk membawa sikap hati yang masih dipengaruhi pola dunia yang selalu serba ingin instan!

 

Seringkali dalam menjawab doa-doa kita, Tuhan harus ‘melibatkan pihak orang ketiga’ dan kadangkala ‘pihak orang ketiga’ tersebut tidak selalu available; sehingga dibutuhkan ‘pihak orang ketiga yang lain lagi’ untuk merealisasikan jawaban doa bagi kita! Meski tidak bisa disangkali, kadangkala justru aspek ketidaksiapan diri kitalah yang membuat jawaban Tuhan jadi ‘tertunda’.

 

Tapi terlepas dari apa pun yang menjadi alasannya, doa-doa yang kita naikkan di hadapan Tuhan, memiliki kuasa yang sanggup mengubahkan! Doa akan mengubahkan diri kita – membuat kita menjadi pribadi yang lebih siap untuk menerima jawaban doa tersebut. Tapi doa juga berkuasa untuk ikut menskenariokan situasi, keadaan bahkan orang-orang tertentu untuk menjadi elemen pendukung bagi terwujud atau terealisasinya jawaban doa!

 

Seringkali kita tidak mengetahui bagaimana cara Tuhan menjawab doa-doa kita. Tapi setiap doa-doa yang sudah kita naikkan di hadapan Tuhan, akan mencari jalannya sendiri. Dan doa-doa itu akan bekerja menggerakkan orang-orang tertentu dengan tujuan memastikan situasi dan keadaan yang tepat bagi terjadinya penggenapan janji Tuhan untuk mulai ter-setting sepenuhnya dan terwujud begitu saja, secara tiba-tiba atau tanpa kita duga-duga.

 

Itu sebabnya, pastikan kita terus bertekun untuk bergumul di dalam doa-doa dan deklarasi firman yang kita lakukan karena ketika kita melakukannya tanpa jemu-jemu, secara begitu saja Tuhan akan membebaskan kita dari segala bentuk pergumulan dalam kehidupan sehari-hari. #AkuCintaTuhan


Ps. Steven Agustinus