Top

8 Oktober 2019

Ada banyak masalah dalam hidup kita ternyata disebabkan oleh luka – luka batin yang kita bawa dari masa lalu. Sehingga pada saat ini kita menjadi orang – orang yang mudah tersinggung, kecewa, dan hidup dalam emosi negatif. Hal kecil yang tidak sewajarnya menjadi masalah, bagi kita justru menjadi hal besar. Kita menjadi merasa tidak dihargai, tidak dihormati, dll. Reaksi yang kita tunjukkan menjadi sangat berlebih. Semua itu disebabkan karena masih adanya ‘luka yang menganga’ dalam diri kita.

 

Ilustrasinya seperti ini: misalkan di tubuh kita ada luka. Saat kita berjalan ke tempat yang ramai dan saling berdesakan satu sama lain, bagi kita hal itu sudah menjadi masalah. Karena ada banyak orang yang ‘secara tidak sengaja’ menyentuh luka kita. Tapi bagi orang yang tidak ada luka, berdesakan di tempat ramai bukanlah masalah. Mau saling bersenggolan berapa kalipun tidak akan membuat dirinya marah. Sebab tidak ada luka.

 

Sama halnya dengan luka – luka batin. Tidaklah mungkin kita bisa menghindari interaksi dengan manusia dalam hidup sehari – hari. Atau menghindari peristiwa – peristiwa yang terjadi. Jika luka kita masih ada, maka banyak masalah dan gejolak emosi negatif yang akan timbul. Bukan disebabkan oleh faktor eksternal, melainkan internal (ada luka) Jadi, tidak ada alternatif lain, kita harus sembuh dari segala luka dan trauma yang masih terbawa dari masa lalu. Jalan satu – satunya hanyalah melalui jamahan kasih dan realita hadiratNya. Tapi tidak boleh berhenti di sana, jamahanNya harus kita tindak lanjuti dengan pembaharuan akal budi.

 

1. Bapa telah mengampuni dan melupakan kesalahan kita

 

Bagian kita sebagai pribadi yang telah menerima anugerah itu adalah menyalurkannya atau melepaskan pengampunan dan melupakan setiap kesalahan orang dan peristiwa buruk yang pernah kita alami. Maksudnya melupakan adalah menolak untuk mengingat kembali dan memenuhi pikiran kita dengan kebenaran firman Tuhan sampai kita bisa melihat jati diri kita dalam Kristus dan roh kita berkobar – kobar karena juga melihat masa depan kita yang gilang gemilang di dalam Kristus. Hidup kita tidak lagi berfokus pada masa lalu, melainkan pada jati diri dan masa depan di dalam Kristus. Masa lalu tersebut kita anggap SAMPAH, sedangkan kehidupan di dalam Kristus kita anggap sebagai harta yang sangat berharga.

 

2. Ingat firman ini (Mat 18:15-35, 5:43-48, 5:23-24) dan pakai firman ini untuk menghancurkan konsep pikir dunia yang mengatakan wajar untuk membenci dan sakit hati jika mengalami perlakuan negatif dan peristiwa buruk.

 

Perkatakan berkali – kali sampai roh kita bergelora. Jangan pasif! Ingat, adalah tidak wajar untuk seseorang hidup dalam konflik batin. Dan tidak ada alasan untuk tidak mengampuni dan melupakan. Kita bisa! Jika kita mau, Roh Kudus pasti menolong! Dan menjadikan kita sebagai representasi Bapa di atas muka bumi ini! Pakai juga firman di bawah ini untuk meneguhkan jati diri kita yang sejati di dalam Kristus!

 

Roma 6:11 (TB) Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.

 

2 Korintus 5:17 (TB) Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

 

Galatia 2:20 (TB) namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

 

Ketahuilah, tindakan tidak mengampuni dan terus hidup dalam konflik batin adalah DOSA! Hal itu bukanlah perasaan atau sikap yang wajar. Pribadi kita yang lama (penuh konflik batin, sakit hati, dendam, dan kecewa) sudah mati! Sudah berlalu! Sekarang kita adalah pribadi yang baru. Hanya dipenuhi kebenaran, damai sejahtera, sukacita, iman, pengharapan, dan kasih. Itulah kita!! Bagian kita adalah memanifestasikan itu semua dalam hidup sehari – hari (Wahyu 21) #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus