Top

11 Febuari 2021

Kitab Filipi memberikan gambaran yang cukup jelas tentang interaksi yang terbangun antara seorang Rasul dengan jemaat yang ia ayomi, antara seorang bapa rohani terhadap sekelompok anak rohani (jemaat Filipi) yang selama ini ia bina.

Dari kitab Filipi pasal 1, kita bisa belajar bagaimana interaksi yang sangat akurat tersebut dimulai, sampai pada akhirnya jemaat Filipi mewarisi roh yang sama seperti yang Paulus miliki dan bersinergi secara maksimal dengan sang bapa rohani.

Untuk kita betul-betul mengkondisikan diri agar dapat mewarisi roh yang sama seperti sang bapa rohani, maka kita perlu mengikuti pola yang sama seperti yang jemaat Filipi sudah lakukan.

1. Biasanya, kita memulai suatu interaksi dengan seorang hamba Tuhan pada saat kita ‘tersentuh’ oleh message (pesan firman) yang ia sampaikan (Filipi 1:5)

Dari poin ini, sebagai seorang hamba Tuhan, kita tidak boleh ‘mengubah atau membuat penyesuaian’ pesan firman yang sudah Tuhan percayakan (bangun) di dalam hidup kita hanya karena kita merasa jemaat yang kita layani masih ada pada level ‘anak-anak rohani’.

Saat pesan firman tersebut kita deklarasikan, maka seberapa banyak orang yang memang sudah Tuhan tetapkan untuk bersama-sama dengan kita dalam menyelesaikan kehendak Tuhan akan segera meresponi, datang dan memposisikan diri mereka secara akurat.

Mengubah dan menyesuaikan message dengan ‘selera pasar’, hanya akan menarik datangnya ‘orang-orang yang salah’ yang pada akhirnya justru jadi pembuat masalah di tengah kegerakan yang sedang kita mulai.

2. Di level awal, interaksi dengan seorang bapa rohani biasanya dimulai dengan adanya sebuah proyek yang dikerjakan secara bersama-sama (Filipi 1:6)

Mereka yang ‘tersentuh’ oleh pesan firman yang disampaikan oleh seorang bapa rohani, biasanya akan segera meresponi dengan cara memberi diri untuk dapat ikut terlibat dan mendukung salah satu atau beberapa proyek pelayanan yang sedang dikerjakan oleh sang bapa rohani. Mereka mendukung pelayanan dan proyek yang ada secara finansial, memberi diri sebagai seorang sukarelawan atau memberi diri untuk mendukungnya dalam doa-doa mereka.

3. Interaksi yang lebih mendalam dengan seorang bapa rohani biasanya terjadi karena bekerjanya kuasa anugerah dan beban pelayanan yang sama dalam hidup mereka (Filipi 1:7)

Dari sekian banyak orang yang meresponi message sang bapa rohani dan ikut berpartisipasi untuk mendukung pelayanan sang bapa rohani, maka akan selalu ada beberapa orang yang dibawa oleh Tuhan untuk mengadopsi beban pelayanan yang sudah Tuhan tanam dalam hati sang bapa rohani.

Keterbukaan untuk memikul beban yang samalah yang akan mengaktivasi bekerjanya kuasa anugerah yang sama seperti yang sang bapa miliki ke dalam hidup sang anak-anak rohani yang bersedia untuk memikul beban yang sama tersebut . Mereka dapat dikatakan sebagai kelompok anak rohani yang mewarisi ‘karunia sulung Roh’. Di dalam kehidupan merekalah duplikasi roh itu pertama-tama akan terjadi.

4. Hanya Roh Kudus yang bisa membuat seseorang untuk memiliki interaksi dengan seorang bapa rohani sampai ke level ini: sang bapa hidup di dalam kehidupan anak-anak rohaninya.

Secara sederhana, duplikasi rohani dapat diartikan bahwa kehidupan yang selama ini sudah Tuhan bangun dalam hidup sang bapa rohani mulai Ia buat hidup dengan kadar dan kualitas yang sama (bahkan akan berlipat ganda menjadi lebih baik lagi) dalam diri anak-anak rohani yang mewarisinya.

Sang anak mulai menumbuhkan ‘kehidupan yang sama’ dan membawanya untuk berfungsi di berbagai area kehidupan yang ada di kehidupan sehari-hari mereka.
Kehidupan ilahi inilah yang akan membuat bangsa-bangsa, bahkan raja-raja untuk datang kepada terang yang ada di dalam hidup kita (Yesaya 60 & 61).

Saya berdoa, biarlah Tuhan terus mengkondisikan hidup kita untuk mewarisi roh yang sama seperti yang sudah Tuhan tanamkan dalam kehidupan bapa rohani kita. #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus