Top

24 April 2021

Saat terus merenungkan kehidupan yang berdampak, saya mendapati bahwa hal ini ternyata tidaklah ‘rumit’. Selama kita memiliki ‘sesuatu’ maka kita sudah bisa berdampak positif atau ilahi bagi orang lain. Mungkin kita berpikir harus memiliki uang, harta, dan segala hal lahiriah lainnya. Tidak, bukan soal itu, melainkan selama kita memiliki ‘sikap yang positif’ maka kita sudah bisa berdampak. Sebab hanya apa yang kita miliki saja yang dapat kita berikan.

Roh Kudus mengajak saya memahami hal sederhana: sebagai anak Allah, anak sang Raja segala raja, maka Kerajaan Surga sesungguhnya menjadi milik saya. Tapi saya harus bertumbuh dalam ketergantungan kepada Tuhan dan firman-Nya, dan dalam sikap mudah percaya. Dengan demikian Kerajaan Allah yang memang menjadi ‘warisan’ dapat saya terima secara nyata, nikmati, dan juga hadirkan dalam hidup sehari – hari.

Roma 14:17 (TB) Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.

Bagaimana caranya kita memiliki kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus?

1. Hiduplah dengan cara bergantung sepenuhnya kepada Tuhan saja.

Matius 5:3 (TB) “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Hiduplah dari anugerah dan belas kasihan Tuhan. Tidak mengandalkan kekuatan sendiri, sepenuhnya mengandalkan Tuhan. Dengan demikian kita sedang mengkondisikan diri terkoneksi dengan baik. Hal itulah yang akan membuat firman dapat senantiasa mengalir ke dalam hidup kita. Setiap saat kita jadi memiliki kebenaran untuk memerdekakan orang dari segala belenggu, ikatan, tekanan, dan dukacita!

Bagian kita adalah menyampaikan kebenaran melalui kesaksian hidup kita ataupun kesaksian orang lain. Jadi bukan menggurui, melainkan menginspirasi. Bukan memposisikan orang ada di bawah kita, melainkan mengangkat mereka yang sedang terpuruk atau terjatuh melalui kebenaran firman yang kita beritakan.

2. Mudah percaya terhadap apa yang Tuhan katakan! Dan sulit percaya terhadap apa yang dunia katakan.

Matius 19:14 (TB) Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.”

Saat kita menjadi orang yang mudah percaya terhadap apa yang Tuhan katakan, maka pada saat itulah kita menjadi pribadi yang tenang, damai, sukacita, serta penuh ucapan syukur. Sebab apalagi yang perlu dikhawatirkan? Jika Tuhan sudah berfirman maka itulah yang pasti akan terjadi.

Keyakinan pada Tuhan akan mengubahkan ekspresi hidup kita. Pancaran sukacita dan kedamaian akan terlihat dari wajah kita. Dengan demikian setiap orang yang berinteraksi dengan kita akan melihat ‘wajah Tuhan’ yang penuh kasih dan kedamaian.

Bilangan 6:25-26 (TB). TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.

Keberadaan kita sebagai anak – anak Allah memang sudah seharusnya membawa damai, bukan justru menjadi ‘provokator’ pertengkaran dan ‘pemanas’ situasi. Melainkan dapat meneduhkan hati yang marah, dan memberikan pandangan – pandangan kebenaran yang memerdekakan orang lain dari belenggu dukacita.

Itulah dampak hidup sehari – hari yang bisa terjadi terhadap orang yang berinteraksi dengan diri kita sebagai anak – anak Allah!

Matius 5:9 (TB) Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

#AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus