Top

27 April 2021

Efesus 5:15-16 (TB) Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah’ jahat’

Kata “jahat“, berasal dari bahasa Yunani: poneros, yang memiliki arti yaitu ditekan, melecehkan.

2 Timotius 3:1 (TB) Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang ‘sukar’

Kata “sukar“, berasal dari bahasa Yunani: chalepos, yang memiliki arti yaitu berbahaya, buas.

Itulah kondisi akhir zaman yang telah dinyatakan di dalam Alkitab. Ada banyak orang percaya yang menjadi korban cetakan dunia. Mereka dibuat kuatir, takut dan terus mengalami ‘ancaman dari buasnya maut’ yang mencuri dan membinasakan – tidak terkecuali kehidupan orang percaya juga mengalami hal yang sama.

Ada satu hal yang menggelitik hati ketika saya membaca ayat tersebut; Roh Kudus berkata: “Tidak sewajarnya orang percaya ada di hari yang jahat dan masa yang sukar, salah tempat! Seharusnya orang percaya tinggal dalam Kerajaan yang tidak tergoncangkan!

Kemudian muncul pertanyaan dalam hati saya: “Dimanakah keberadaan kita saat ini?“. Dengan tegas Roh berkata: “Jika kita mengalami hal tersebut (hari jahat, masa sukar) artinya kita masih hidup dalam dunia yang lahiriah. Kita tidak hidup di dalam Roh-Nya. Sebab jika kita ada di dalam Dia, kita tidak akan pernah ‘tersentuh’ oleh hari yang jahat dan masa yang sukar“.

Roh Kudus kembali melanjutkan: “Fokus saja untuk hidup dalam dunianya Tuhan. Renungkan firman dan ikuti arahannya. Perhatikan hidup Elia, ia hidup dalam Kerajaan yang tidak tergoncangkan walau sekelilingnya ada dalam krisis. Ia tetap dipelihara sempurna dengan cara-Nya Tuhan. Elia tidak ‘berpikir keras’ untuk bertahan hidup di tengah krisis. Apalagi sampai pusing mencari uang (tekanan hari yang jahat). Ia tidak berfokus pada hari yang jahat dan masa yang sukar, ia berfokus pada firman-Nya“.

Saya merasa, daya fokus seperti itulah yang kita perlukan, yaitu fokus pada Tuhan dan firman-Nya saja, bukan yang lain. Itulah yang membuat kita tidak tergoncangkan. Percayalah, jalan hidup kita sebagai orang percaya sudah pasti berbeda dengan jalan hidup dunia ini. Beda sistemnya, beda tujuannya, dan beda dasar keyakinan – mereka punya standar kesuksesannya sendiri. Kesuksesan apa pun yang mereka raih akan berakhir dengan kehancuran (maut tetap berkuasa atas mereka). Jadi tidak perlu merasa aneh dan iri jika hidup kita berbeda karena hidup oleh firman-Nya saja.

Pertanyaannya, maukah kita hidup hanya dari firman-Nya saja tanpa harus terganggu dengan kondisi dunia yang ada? Mentalitas yang tangguh untuk terus bergantung pada firman-Nya menjadi hal yang sangat penting. Dibutuhkan tekad dan keteguhan hati untuk hidup hanya dari firman-Nya. Ini memang jalan hidup yang berbeda. Nikmatilah kehidupan tersebut.

Tidak perlu ragu untuk hidup dalam firman-Nya. Kita bukan korban dari hari yang jahat dan masa yang sukar! Tidak ada kolerasi diri kita dengan hal tersebut. Kita hanya terhubung dengan realita Kerajaan-Nya dan hidup hanya dari firman-Nya saja. Kita tidak hanya akan menikmati realita Kerajaan Surga, tapi kita juga akan menghadirkan realita kerajaan di atas bumi ini!!

Jangan mau hidup sebagai ‘manusia biasa’ (budak sistem dunia), kita adalah anak – anak Allah yang hidup dalam kerajaan yang tidak tergoncangkan! Kita bukan budak yang sedang terus dikondisikan atau dicetak untuk mengejar kesuksesan di dalam sistem dunia. Bukan! Kita adalah anak Allah yang hidup dari firman dan menyelesaikan agenda-Nya!

#AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus