Top

4 Mei 2021

Pencobaan di padang gurun adalah jenis pencobaan yang akan dialami oleh semua orang. Ini adalah jenis pencobaan yang sama seperti yang juga dialami oleh manusia pertama di taman Eden.

Tujuan dari pencobaan adalah agar kita sebagai pewaris kasih karunia Allah, ‘bersedia’ untuk ‘menukarkan’ anugerah ilahi-Nya dengan hal-hal lain yang ‘ditawarkan’ oleh Musuh.

1. Musuh akan membuat kita mulai mempertanyakan kebaikan dan kesetiaan Bapa (Matius 1:1-4)

Semua peristiwa buruk yang ada di sekitar kita akan selalu diputarbalikkan oleh Musuh untuk membuat kita mulai meragukan kebaikan dan kesetiaan-Nya. Selama kita terus berpegang pada firman-Nya, kita tidak akan pernah mempertanyakan kebaikan dan kesetiaan Bapa. Sebaliknya, kita justru bisa bangkit untuk menjadi ‘saksi bagi generasi kita’. Terus bangun ketetapan hati dalam hidup kita. Jalani kehidupan sehari-hari kita di atas dasar keyakinan yang kita bangun: Dia adalah Bapa yang baik, apa pun yang Ia ijinkan untuk terjadi, pasti selalu ditujukan untuk kebaikan kita.

2. Musuh akan mengkondisikan untuk kita selalu mengejar dan menuntut apa yang menjadi hak kita (Matius 4:5-7)

Satu-satunya cara untuk menjadi pemimpin adalah dengan pertama-tama melayani. Untuk menjadi besar seseorang harus rela menjadi yang paling kecil. Untuk mendapatkan sesuatu maka seseorang harus rela menyerahkan. Untuk mendapatkan hidup, maka seseorang harus rela mati terlebih dahulu.

Inilah pola Kerajaan yang harus dibangun oleh setiap orang percaya: Untuk bisa mengikuti Dia, maka kita harus mau menyangkal diri dan memikul salib setiap hari. Tapi musuh akan selalu menawarkan sesuatu yang membuat seseorang merasa tidak perlu ‘mengalami kematian’ sebelum bisa menikmati ‘sesuatu’. Musuh akan ‘memberitahukan’ apa yang sebetulnya ‘menjadi hak kita’ dan mendorong kita untuk menuntut hak tersebut.

Seandainya setiap orang percaya belajar untuk meresponi segala sesuatu seperti Yesus yang rela mengosongkan Diri-Nya, maka kehidupan orang percaya akan betul-betul dipenuhi kuasa dan sebagian besar permasalahan yang ada di dalam gereja akan begitu saja hilang (Filipi 2:5-11, Yakobus 4:1-3).

Masalah konflik batin atau semua hal yang berkaitan dengan jati diri seseorang terjadi karena orang yang bersangkutan belum ‘mati’. Sebaliknya, ia mengejar ‘tawaran Musuh’ yakni menikmati apa yang menjadi hak mereka.

3. Musuh akan menawarkan penyelesaian masalah secara cepat dan gampang (Matius 4:8-10)

Masalah apa pun harus diselesaikan dengan kebenaran. Segala bentuk jalan pintas yakni dengan mengandalkan kekuatan manusiawi, seperti mengandalkan koneksi atau mamon hanya akan ‘membungkam’ kesaksian hidup kita di masa depan.

Segala bentuk kebutuhan, khususnya pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari sebetulnya sudah disediakan oleh Tuhan bagi semua orang percaya yang berjalan dalam rancangan Tuhan, tapi Musuh akan membuat kita merasakan kekuatiran akan hari esok sedemian rupa sehingga membuat kita merasa bahwa apa yang sudah Tuhan sediakan bagi kita menjadi terlalu sulit untuk dinikmati ataupun terlalu mustahil untuk dapat terwujud begitu saja. Karenanya membutuhkan ‘alternatif lain’ untuk dapat merealisasikannya. Disinilah Musuh mencoba memainkan peranannya agar kita mulai ‘meninggalkan’ apa yang sudah Tuhan sediakan dan ‘menggantinya’ dengan jerih payah kita sendiri.

Seluruh kerajaan dunia sekali waktu akan menjadi kerajaan Tuhan kita, tetapi ingatlah bahwa cara Musuh menawarkan kerajaan itu kepada Yesus adalah tanpa Ia harus terlebih dahulu melewati kematian. #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus