Top

8 Mei 2021

Message ini adalah merupakan kelanjutan dari message kemarin.

Kita sedang membahas tentang manifestasi roh-roh dunia dan bagaimana menjagai diri dari gempuran mereka.

1. Dunia di sekitar kita memang sudah dikuasai, sepenuhnya tercemar oleh berbagai aktivitas roh-roh dunia yang terus mengkondisikan seseorang hidup dalam kedagingan (1 Yohanes 5:19).

2. Gerbang penglihatan, pendengaran, penciuman, sentuhan (feel) dan rasa (taste) merupakan ‘pintu masuk’ dari ‘dunia sekitar’ ke dalam jiwa seseorang.

3. Tujuan musuh adalah untuk mencemari, merusak imajinasi, nurani, memori, alasan dan affection (pancaindra jiwani) seseorang.

4. Musuh akan terus berusaha mencemari pancaindra lahiriah seseorang.

a. Musuh akan terus berusaha mencemari imajinasi seseorang dengan memanfaatkan pancaindra lahiriah yang ‘menangkap’ suatu peristiwa, keadaan atau situasi tertentu yang ‘terlihat menarik perhatian’ kita.

JAGAI KECENDERUNGAN HATI YANG KITA MILIKI. Terus selaraskan dengan firman-Nya, dengan pola hidup ilahi yang sudah terbangun dalam hidup seorang bapa rohani (Amsal 2:1-2).

Misalnya dalam olahraga berenang, apa yang ‘menarik’ perhatian kita? Apakah karena suka bermain air? Atau ini merukapakan jenis olahraga yang ‘aman’ menurut kita? Atau mungkin kita suka berenang hanya karena ingin memandangi wanita berbikini?

Kecenderungan hati yang kita miliki akan membuat mata lahiriah kita ‘mencari-cari’ hal tersebut dan apa yang sudah mulai ‘terlihat’ tersebut akan secara otomatis kita ‘kembangkan lebih lanjut’ di area imajinasi kita. Itu sebabnya Yesus berkata, hanya dengan berimajinasi bahwa kita sedang meniduri seseorang saja, sesungguhnya kita sudah berdosa (Matius 5:27-28)!

Jika mungkin kita memang memiliki ketertarikan dan kecenderungan hati untuk menjadi orang kaya, saat kita mendengar kesaksian tentang orang-orang yang sukses secara finansial, maka otomatis hal itu akan membuat kita mulai mengimajinasikan, seandainya kitalah yang menikmati kesuksesan tersebut. Hal tersebut membuat kita jadi memiliki suatu ‘daya dorong’ untuk mewujudkannya. Akses masuk melalui ‘gerbang pendengaran’ atau telinga telah terbuka lebar.

b. Musuh juga akan memanfaatkan pancaindra lahiriah seseorang untuk mencemari nurani dan alasan dalam hidup seseorang.

Apa pun tindakan, pemikiran atau rasa (affection) yang tidak Alkitabiah akan selalu membuat hati nurani seseorang mulai berbicara dan memperingatkan dirinya. Tapi Musuh tidak akan begitu saja menyerah hanya gara-gara hati nurani memblokir tindakannya. Musuh akan terus berusaha untuk dapat ‘menyajikan’ berbagai fakta, arus tren dan sebagainya, hanya untuk membuat area alasan dalam jiwa kita mulai ‘berpihak’ padanya. Di sinilah dibutuhkan adanya KETETAPAN HATI YANG KUAT dan KECENDERUNGAN HATI YANG SELARAS DENGAN FIRMAN.

Alasan yang mulai tercemar oleh roh-roh dunia akan menciptakan kebimbangan dan keraguan secara terus menerus. Apabila alasan sudah dikuasai oleh musuh, maka area alasan akan menjadi benteng dan kubu keangkuhan manusia yang akan selalu menentang pengenalan akan Tuhan.

c. Musuh akan terus memanfaatkan gerbang pancaindra yang tidak dijagai untuk mencemari memori dan affection seseorang.

Semua peristiwa buruk (baik yang dialami pribadi maupun orang lain) yang sempat ‘tertangkap’ melalui pancaindra dan TIDAK ‘DISARING’ dengan prinsip firman akan terekam masuk dalam memori jiwa kita sebagai sebuah ‘benih lalang’ yang suatu hari nanti akan bisa bertumbuh dan merusak pertahanan dari alasan serta mengaduk-aduk affection (emosi) kita. Tujuannya adalah ketika musuh mulai menyerang, maka kekuatan hati nurani akan dengan mudah dapat dilumpuhkan.

Dibutuhkan perenungan firman untuk dapat mencabut semua benih lalang yang terlanjur masuk ke dalam memori jiwa kita. Perenungan firman akan menolong kita untuk dapat ‘melihat keberadaan atau pekerjaan Tangan Tuhan’ di setiap peristiwa yang terjadi dan terekam dalam memori jiwa kita. Perenungan firman juga akan menolong kita untuk dapat ‘mengendalikan’ gejolak dan gelora affection (emosi) dalam jiwa kita sehingga kita akan dapat biasakan affection untuk dapat menikmati lingkupan damai sejahtera Tuhan yang melampaui segala akal.

Affection (emosi) yang terus diselaraskan dengan kuasa firman akan membuat emosi orang yang bersangkutan bertumbuh dengan sehat dan dapat dipakai Tuhan untuk mengekspresikan berbagai keilahian Tuhan. #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus